Category Archives: Pendidikan

Kerja Besar untuk Pendidikan

Mengikuti alur pemikiran Presiden Jokowi yang mengajak para menterinya dan segenap rakyat mewujudkan visi-misi kepemerintahannya dengan kata-kata “kerja, kerja, dan kerja”, maka dalam pembangunan di bidang pendidikan kerja itu besar sekali, mungkin luar biasa besarnya.

Dikatakan besar karena bukan hanya besar pada kapasitas dan kualitas kerjanya pada kementerian pendidikan namun juga pada semua kementerian; bukan hanya pada tanggung jawab pemerintah tapi secara moral juga tanggung jawab semua pihak. Artinya bahwa pembangunan pendidikan membutuhkan kepedulian yang besar dari semua elemen bangsa. Konsekuensinya pemerintah harus menampung aspirasi dari semua pihak untuk membantu pendidikan; tidak boleh membiarkan banyak orang mengurusi pendidikan sendiri-sendiri. Namun negara menggerakkan semua insan Indonesia, atau, seperti yang disebutkan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan di sebuah harian nasional, negara menumbuhkan gerakan rakyat.

Gerakan rakyat ini sebenarnya sudah bisa ditumbuhkan di awal era reformasi, mengingat era ini dikatakan sebagai era bebas bersuara, berserikat dan berkumpul. Namun, apa yang terjadi ternyata pendidikan kita semakin terpuruk. Apakah kita melihat semakin maraknya tindak pidana korupsi dilakukan oleh orang yang tak terdidik? Apakah kita melihat trend tawuran di kalangan pelajar semenjak orde baru sampai sekarang semakin menurun? Apakah minat baca orang Indonesia dibandingkan negara lain sudah dinilai bagus oleh Badan Dunia? Apakah lulusan sekolah dan perguruan tinggi sudah bisa bersaing secara global dengan negara lain? Apakah fasilitas sekolah kita sudah memadai dan merata di seluruh penjuru tanah air? Apakah kompetensi dan kinerja guru sudah bisa dikatakan layak melayani peserta didik? Apakah nasib guru sudah membaik, sudah dapat hidup layak di negeri ini, sudah diapresiasi setinggi-tingginya sehingga guru bisa berkreasi dan berinovasi? Apakah orang tua sudah mau mendukung sepenuhnya terhadap pendidikan anaknya di sekolah? Mana yang lebih dihargai orang tua, nilai yang diberikan guru atau nilai Ujian Nasional? Mana yang bisa memberikan kebanggan orang tua, ijazah sekolah tinggi atau skill (kecakapan) yang tinggi? Apakah suasana sekolah sudah menyenangkan bagi siswa? Apakah kita sadar, perundungan (bullying) semakin banyak terjadi antara peserta didik di sekolah dan perguruan tinggi? Apakah kita sadar, tindak kriminal yang melanda peserta didik, seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan cenderung meningkat?

Masih banyak indikator yang bisa kita ungkapkan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan atau keterpurukan pendidikan di negeri tercinta ini. Namun, dalam tulisan ini cukuplah pertanyaan yang disebutkan di atas sebagai pemicu kesadaran kita bahwa pendidikan kita membutuhkan kerja besar. Perekat bangsa agar bisa memulai kerja besar ini sudah ada sebelum kemerdekaan. Semboyan kerjanya pun sudah kita kenal. Patokannya telah terpancang. Apa itu? Bapak Pendidikan kita telah mengemukannya, yakni “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” (Di depan memberikan keteladanan, di tengah memberikan bimbingan, di belakang memberikan dorongan).

Memang titik sentral dalam pendidikan adalah guru. Pak Anies menegaskan hal ini dalam sambutannya pada HGN (Hari Guru Nasional) tanggal 25 November 2014 yang lalu. Semboyan itu mau tak mau memang harus dijalankan oleh guru baik di sekolah maupun di luar sekolah.  Itulah yang dimaksud bahwa guru adalah yang ditiru dan digugu. Namun, apakah usaha dan kerja guru bisa mendatangkan hasil yang maksimal bagi pendidikan anak bangsa kita dalam konteks kekinian?

Guru perlu didukung oleh orang tua murid agar semua arahan, nasehat, pengajaran pada anak mereka dapat diserap dan tertanam dengan baik pada diri anak-anak mereka; agar semua tugas yang diberikan guru dapat dipahami dan dilaksanakan anak mereka di rumah. Guru perlu didukung oleh dunia kerja agar ilmu dan keterampilan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau instansi yang dituju lulusan pendidikan. Guru perlu didukung oleh media massa baik cetak ataupun elektronik agar informasi yang tersedia bisa memuaskan kebutuhan mereka dan peserta didik terhadap materi ajar dan media pembelajaran, bebas dari informasi negatif yang meracuni pemikiran dan meliarkan nafsu berahi, bersih dari bacaan atau tayangan yang memicu kekerasan dan provokasi.

Jadi kerja besar harus dilaksanakan oleh bangsa ini mulai dari setiap keluarga, segala lapisan masyarakat dan semua lini usaha dan instansi agar generasi emas dapat terwujud.

BEASISWA S2 dan S3 dari Pemerintah RI untuk Warga Negara RI

beasiswa

1. Latar Belakang

Bonus demografi bagi bangsa Indonesia berupa proporsi usia produktif terbaik sejak kemerdekaan terjadi dari 2010 hingga 2035. Hal tersebut akan menjadi dividen demografis bila pendidikan berhasil, atau sebaliknya menjadi bencana demografis bila pendidikan gagal. Keberhasilan menyiapkan sumber daya manusia agar menjadi kekuatan bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa memerlukan pendidikan yang mampu menghasilkan putra-putri bangsa yang berkarakter, cerdas, terampil, berdaya juang dan daya saing tinggi, serta dilandasi dengan semangat kebangsaan yang kuat.

Untuk mencapai hal tersebut Visi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2012-2016 adalah Menjadi lembaga pengelola dana yang terbaik di tingkat regional untuk menyiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan. Dari visi tersebut dijabarkan dalam misi yaitu:

  1. Mempersiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui pembiayaan pendidikan;
  2. Mendorong riset strategis dan/ atau inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset;
  3. Menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya melalui pengelolaan Dana Abadi Pendidikan yang optimal; dan
  4. Sebagai last resort, mendukung rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam melalui pengelolaan Dana Cadangan Pendidikan. Dengan visi dan misi tersebut, maka LPDP ikut memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan khususnya dalam menyiapkan SDM yang berkualitas.

Pemerintah melalui LPDP, pada tahun 2013 menyiapkan Beasiswa  Magister dan Doktor bagi masyarakat Indonesia yang memenuhi persyaratan LPDP untuk melanjutkan studi pada Program Magister atau Doktor dalam beberapa bidang keilmuan yang menjadi prioritas LPDP di perguruan tinggi dalam atau luar negeri.

Pedoman Program Beasiswa Magister dan Doktor ini disusun untuk memberikan acuan dalam pelaksanaan Program Beasiswa Magister dan Doktor yang sesuai visi dan misi LPDP. Dengan adanya pedoman ini diharapkan pelaksanaan proses seleksi Program Beasiswa Magister dan Doktor dapat berjalan dengan baik dan mampu menjaring/memilih penerima Beasiswa Magister dan Doktor yang tepat yang sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan LPDP.

 2.  Tujuan

Program Beasiswa Magister dan Doktor LPDP bertujuan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkemampuan yang mumpuni sebagai pemimpin masa depan Indonesia.

 3. Sasaran Program

Sasaran bantuan program beasiswa ini adalah Warga Negara Indonesia yang berkemampuan akademik dan kepemimpinan yang tinggi dan lolos proses seleksi untuk melaksanakan studi pada

program Magister dan Doktor. Bidang ilmu program beasiswa Magister dan Doktor LPDP adalah bidang ilmu yang menjadi fokus LPDP yang terdiri atas :

  1. Teknik
  2. Sains
  3. Pertanian
  4. Akuntansi dan Keuangan
  5. Hukum
  6. Agama

 4. Komponen Pembiayaan

Program Beasiswa Magister dan Doktor LPDP memberikan bantuan biaya studi program Magister atau Doktor kepada penerima beasiswa yang meliputi komponen-komponen berikut:

  1. Biaya Awal (Initial Allowance) yang meliputi:
  • Biaya Pendaftaran (langsung dibayarkan ke universitas);
  • Biaya Matrikulasi (langsung dibayarkan ke universitas);
  • Biaya akomodasi awal (Settlement Alloe);
  • Biaya Tesis/Desertasi;
  • Biaya seminar international (untuk S3);
  • Biaya transportasi.
  1. Biaya Berkala (Periodic Allowance) yang meliputi;
  • Biaya perkuliahan / SPP (tuition fee);
  • Biaya hidup bulanan & tunjangan domisili (monthly allowance);
  • Tunjangan buku (book allowance).
  • Asuransi kesehatan.

Tentang Kriteria Seleksi, Persyaratan, dan lain-lain bisa diunduh di sini

FAKTOR DAN SOLUSI ANAK BOLOS SEKOLAH: ANALISIS UNTUK PENDIDIK

Di sebagian tempat, sering ditemukan anak-anak yang berkeliaran di luar sekolah pada jam-jam sekolah. Artinya, anak ini membolos alias tidak masuk sekolah. Mungkin ada pembaca yang berkilah dengan mengatakan belum tentu mereka membolos, mungkin mereka ada tugas di luar sekolah. Seandainya ini dijawab dengan pengalaman kami, prasangka positif ini tidak mengena. Pengalaman kami saat menemui “gerombolan” siswa ini ketika kami tanyakan dengan baik-baik apakah mereka tidak masuk sekolah dan kenapa tidak mau masuk, nada dan isi jawaban mereka tidaklah pernah menyiratkan bahwa mereka ada tugas ke luar sekolah. Apa yang mereka kerjakan selama membolos?
Pengalaman dan pendengaran kami menemukan bahwa anak-anak itu duduk-duduk bersenda-gurau sambil merokok. Dan paling memprihatinkan (ini sering didengar dari tetangga) adalah mereka sering mencuri buah kelapa dan ubi kayu tanaman orang di tempat mereka berkumpul. Kami sebagai orang baru (baru pindah rumah) belum bisa berbuat banyak selain menasehati mereka agar masuk saja. Namun apa jawab mereka? Kenapa mereka membolos?

ALASAN PERTAMA: GURU GALAK
Mayoritas anak yang ditanya alasan mereka membolos adalah karena gurunya galak, suka memarahi, dan suka mencela, malahan menghina anak di depan orang lain. Pernyataan ini ternyata beralasan sebab pada hari Senin atau hari-hari bila anak-anak dikumpulkan di lapangan, suara guru yang berbicara melalui pengeras suara menunjukkan hal itu (kebetulan rumah tempat tinggal kami berdekatan dengan sekolah tersebut). Kata-kata yang keluar apakah memanggil anak kumpul atau memanggil anak berbaris, dan sebagainya amatlah menyakitkan telinga, baik dari nada dan intonasinya maupun isi kalimatnya. Suatu hari pernah ada tetangga yang bersebelahan dengan sekolah, keluar dari kamarnya dan berteriak dengan keras ke arah pagar sekolah yang ada di belakang rumahnya. “Oi Ibu guru berhentilah ngomong !!”.
Kalau kita orang dewasa saja yang sudah banyak makan asam dan garam dalam kehidupan ini tidak merasa nyaman dengan perkataan guru seperti itu, apalagi anak-anak sekolah yang masih hijau, yang membutuhkan bimbingan dan penghargaan. Maka wajar saja bila anak-anak merasa tidak nyaman lagi di sekolah. Konsekuensinya mereka mencari tempat yang nyaman, yang tidak ada guru memarahi mereka, tidak ada perkataan yang mencela. Dengan kata lain, sekolah bagi mereka bukanlah tempat yang menyenangkan untuk belajar, untuk mengembangkan diri, untuk bersosialisasi dan lain sebagainya.
Kami amat bersyukur mendapatkan cerita dari pengalaman teman kami yang baru saja pulang dari studi S-3nya di Australia. Teman kami ini bisa ditemui setelah ia menyelesaikan urusan sekolah anak-anaknya. Seorang anaknya dimasukkan ke sebuah SMP negeri yang berbasis internasional dengan harapan agar kecakapan berbahasa Inggris anaknya tidak menurun. Saat ia mendaftarkan anaknya, ia dan istrinya amat terkejut melihat perilaku beberapa guru terhadap siswanya. Teman kami ini mendengar suara panggilan dari pelantang suara di lapangan yang ditujukan kepada siswa. Kemudian teman kami ini melihat bagaimana seorang anak yang dipanggil tadi dimarahi di ruangan guru. Menurut teman kami ini, cara guru memanggil dan memarahi anak ini di sekolah favorit tersebut jauh berbeda dengan apa yang mereka rasakan di sekolah –sekolah di Australia. Di sana para siswa diberlakukan dengan amat manusiawi sehingga siswa merasa nyaman dan amat betah berada di sekolah. Suara panggilan di pengeras suara berintonasi sopan seperti di bandara atau di pasar swalayan. Dan cara mereka memarahi pun tidak terkesan mencela atau menghina dengan suara keras.
Bagaimana kita? Apa masih bangga dengan sekolah sebagai “candradimuka”, dimana siswa digembleng dengan kegiatan yang amat ketat dan keras? Apakah anak yang membolos akibat “kawah” ini dianggap sebagai siswa yang terpelanting sehingga tidak dibutuhkan lagi di sekolah? Terus, bila memang cara pendidikan ini dianggap tepat untuk mengantisipasi kenakalan remaja, kenapa aksi tawuran di kalangan siswa terus meningkat?
Di sekolah yang kami ceritakan terdahulu—di lingkungan tempat tinggal kami—akhirnya kekhawatiran kami terjadi. Diawali dengan dengan perkelahian antar siswa sesama sekolah dan tidak lami kemudian berujung dengan tawuran antar sekolah. Bersyukur aparat keamanan cepat bertindak. Tiga orang diciduk oleh kepolisian: satu lulusan sekolah yang kami ceritakan ini, satu anak drop-out (diberhentikan oleh sekolah) dan satu orang lain (bukan dari pihak sekolah yang bertikai). Kami mendengar (tapi kami belum kami konfirmasi) rentetan perkelahian ini menelan seorang korban tewas.
Sebelum kami tinggal di perkampungan ini, menurut para tetangga, siswa-siswa ini kedapatan mengkonsumsi narkoba. Namun, kami bersyukur, kami di depan kami belum pernah terlihat. Informasi ini lambat-laun menjadi kebenaran pada kami setelah kami dapatkan dari beberpa aparat keamanan mengungkapkan bahwa daerah sekitar sekolah disinyalir sebagai ajang peredaran narkoba.
Dua hal yang amat berbahaya dan merusak masa depan sudah siap menyerang anak kita bila mereka membolos: NARKOBA dan TAWURAN.

Maka, bagaimana agar guru tidak galak lagi?
Sumber jawabannya tentu saja berpangkal pada sebab-musabab guru galak. Bila penyebabnya adalah anak tidak mau mentaati peraturan sekolah, maka dicari dulu kenapa berbuat demikian. Ini kita lakukan agar kita bisa melihat permasalahan seobyektif mungkin dan tindakan kita tepat sasaran. Siapa tahu dalam hal ini peraturan sekolah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi sekarang. Siapa tahu peraturan sekolah belum mereka pahami. Dan bisa saja mereka melanggar peraturan akibat ada oknum guru yang juga melanggar peraturan, misalnya merokok. Menggali informasi dari sang anak tidaklah bisa dengan marah-marah. Perlu pendekatan dari hati ke hati. Kita kondisikan mereka bukan pesakitan, tapi pelanggan yang membutuhkan pelayanan. Setelah tahu penyebabnya, maka kita ambillah tindak lanjut yang bijaksana dan tetap memberikan pengertian pada anak akan pentingnya mematuhi peraturan dan tata-tertib sekolah.
Bila penyebab guru galak adalah karena siswa malas mengerjakan PR atau tidak aktif di kegiatan belajar-mengajar di kelas, maka cari tahu kenapa mereka malas mengerjakan PR dan kenapa mereka lesu dalam kegiatan di kelas. Lagi-lagi mencari tahu ini tidaklah bisa dengan marah-marah. Secara sederhana, menurut hemat kami, salah satu penyebab utama pada fenomen ini adalah karena materi yang diajarkan tidak mampu mereka pahami. Jadi, guru harus membenahi kegiatan di kelas sedemikian rupa hingga mereka bisa menguasai materi.
Bila penyebabnya adalah karena perwatakan (artinya guru tersebut temperamental atau emosional), maka guru perlu diikutkan dari pendidikan dan pelatihan karakter atau pembinaan dari kepala sekolah, pengawas atau dari dinas dan lembaga terkait. Jika cara ini juga tidak berhasil untuk mengubah perilaku guru, barangkali guru tersebut perlu dibebastugaskan sebagai pengajar di kelas.

ALASAN KEDUA: PELAJARAN SUSAH ATAU TIDAK DIMINATI
Alasan lain kenapa anak membolos adalah karena pelajaran di kelas susah dipahami atau tidak membuat mereka tertarik. Permasalahan ini betul-betul mendasar. Semua warga sekolah harus menyadari ini. Para pengawas dan widyaiswara harus mampu mengatasi permasalahan ini. Para pemangku kebijakan tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut. Solusinya harus segera dicari. Mendesak sekali.
Dari semua rujukan dan dari perbincangan dengan para praktisi pendidikan yang senior, kami dapatkan 3 (tiga) hal yang rangkaiannya mampu memecahkan permasalahan di atas.
1) Buat pelajaran untuk keterampilan hidup,
2) Buat materi pelajaran bersifat aplikatif, dan
3) Buat para siswa aktif dalam kegiatan yang menyenangkan

BUAT PELAJARAN UNTUK KETERAMPILAN HIDUP
Seringkali seorang guru yang cerdas atau menguasai materi luar-dalam sadar atau tidak sadar menerapkan prinsip SAINS UNTUK SAINS di kelas mereka masing-masing. Sehingga kelas penuh dengan ceramah yang membahas teori-teori dan kajian-kajian ilmiah seperti layaknya di perguruan tinggi. Padahal, anak-anak perlu sekali dibekali dengan keterampilan yang bisa mereka manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, apa guna belajar berhitung atau belajar ilmu ukur; apa guna belajar bahasa Inggris. Bila mereka semua belajar mata pelajaran yang selalu dikaitkan dengan manfaatnya di kehidupan sehari-hari, maka insya Allah dengan sendirinya mereka mau rajin belajar. Sebab mereka merasa setiap masuk kelas ada saja perolehan yang dapat mereka bawa ke rumah atau ke dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, prinsip yang benar yang harus diterapkan adalah SAINS UNTUK HIDUP.

BUAT MATERI PELAJARAN BERSIFAT APLIKATIF
Ini berhubungan erat dengan butir di atas. Ilmu atau keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan haruslah disajikan dalam kegiatan yang aplikatif, yakni mudah diterapkan. Tentu saja kata mudah ini bersesuaian dengan jenjang pendidikan anak. Artinya semakin tinggi pendidikan, semakin sulit tingkat aplikasi dari ilmu dan keterampilan tersebut. Namun demikian yang dimaksud di sini adalah bahwa setiap materi yang disajikan di kelas haruslah mudah diterapkan oleh siswa pada kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, materi pelajaran harus disajikan sesuai dengan konteksnya, yakni sesuai dengan lingkungan hidup para siswa. Misalnya, pada pembelajaran wacana tentang jembatan, maka teks yang disajikan adalah tentang jembatan yang ada di kota atau di daerah tempat tinggal para siswa.

BUAT PARA SISWA AKTIF DALAM KEGIATAN YANG MENYENANGKAN
Kegiatan pembelajaran yang materinya aplikatif dan bermanfaat bagi ketrampilan hidup tidak cukup bila kegiatan siswa hanyalah duduk dan mendengar saja seperti pada perkuliahan di perguruan tinggi. Untuk jenjang sekolah dasar dan menengah, keadaan ini dapat menyebabkan siswa mencari jalan keluar untuk minggat dari sekolah. Perlu diketahui dari ilmu perkembangan anak didik, anak-anak seusia di sekolah dasar dan menengah memiliki energi yang menumpuk dan akan mencari kesempatan untuk melepaskannya. Jika kegiatan di kelas hanya duduk dan mendengar saja, maka siswa bagaikan kuda liar yang ditambat di kandang, ia akan berusaha mencari cara supaya bebas keluar dari kandang.
Guru yang profesional akan menerapkan model-model pembelajaran di kelas yang membuat siswa aktif dan senang. Kegiatan aktif akan bisa menyenangkan bila diterapkan kegiatan yang serupa atau bisa sama dengan permainan (games), namun bisa memompa rasa sosial dan kerjasama di antara peserta didik. Siswa dikelompokkan dalam kelompok tiga atau empat orang (masing-masing kelompok beranggotakan 3 atau 4 orang) melakukan kegiatan yang memiliki tujuan yang jelas yang disebutkan di awal kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran yang bisa diterapkan adalah pembelajaran berbasis proyek (PBL), pembelajaran berbasis masalah (PBM), atau pembelajaran berbasis penelitian. Sebagian selingan bisa guru sekali-kali menerpakan permainan, seperti Berpacu Dalam Melodi (bertujuan menebak lagu, namun bisa direkayasa dengan selain lagu, misalnya tebak gambar tokoh, dll): Bermain Peran (bertujuan meragakan sebuah aktifitas seperti adegan di bank, yang mana ada dua orang bercakap dalam bahasa Inggris tentang bagaimana membuat rekening bank); atau, bisa saja permainan Bisikan Rantai (bertujuan mengecek kebenaran sebuah berita, kalimat, perintah, yang disampaiakn secara berantai).

Yang penting lagi agar anak bisa senang dan aktif di kelas adalah penilaian yang memberikan apresiasi tinggi pada siswa. Kebanyakan para guru amat pelit memberi nilai atau penghargaan yang tinggi pada siswa. Padahal, selain mereka ingin mendapatkan perolehan ilmu atau keterampilan di kelas, mereka amat menginginkan nilai atau penghargaan yang tinggi dari gurunya.

Prinsip yang mendasari hal ini adalah :

(1) Bahwa semua manusia menginginkan dihargai;
(2) Bahwa semua insan terlahir di dunia memiliki bakat dan kemampuan yang unik dan beragam.

Kedua prinsip tersebut bila dijalankan dengan baik, maka tidak akan pernah lagi kata celaan seperti “anak yang bodoh” diucapkan oleh guru sebab anak memiliki bakat dan kemampuan yang tidak sama dengan yang lain. Misalnya, siswa A berprestasi dalam mata pelajaran matematika, namun siswa B ternyata pandai dalam olah vokal, dan siswa C unggul dalam bidang olahraga.
Bagaimana cara menilai (dengan angka) atau memberikan penghargaan (dengan pernyataan) yang tinggi pada siswa? Yang kita rumuskan adalah indikatornya; yang kita usahakan agar berjenjang dari yang mendasar sampai yang rinci. Sebagai contoh, pada pembelajaran bahasa pada kegiatan mengarang, maka indikator yang terlebih dahulu kita acu adalah penuangan ide. Maka, anak yang bisa menuliskan banyak ide diberi nilai yang tinggi meskipun kalimat-kalimat yang ditulis masih salah secara tata bahasa dan belum rapi dalam pengorganisasian kalimat.
Kami sudah membuktikan dalam pengalaman sebagai guru lebih dari 22 tahun, bahwa kegiatan di kelas yang membuat siswa aktif dan senang seperti yang diutarakan di atas akan membuat anak rajin belajar dan tertarik dengan pelajaran kita. Walhasil, keinginan membolos dapat dikikis.

 

(selesai ditulis oleh Erlan Agusrijaya, di Palembang, 29 Rabi’ul Awwal 1436/ 20 Januari 2015 pada pukul 23.24 WIB)

PENDIDIKAN UNTUK ORANG TUA SISWA, PERLUKAH?

Dalam laman resminya KEMDIKBUD (www.kemdikbud.go.id), dalam bagian berita tertanggal 14 Januari 2015 disebutkan bahwa Mendikbud, Pak Anies Baswedan, akan membentuk direktorat yang menangani peranan orang tua dalam pendidikan. Direktorat ini akan menjadi rujukan bagi orang tua untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keayahbundaan atau peran orang tua dalam pendidikan anak. Selanjutnya dinyatakan juga bahwa direktorat ini dibuat sebagai suatu kebijakan dalam pendidikan orang tua. Sebelumnya dalam berbagai kesempatan Mendikbud sering mengatakan bahwa  orang tua memegang peranan amat penting dalam pendidikan seorang anak.

               Rencana ini patut kita apresiasi dan kita dukung agar dapat terwujud dan difungsikan sebagaimana yang diharapkan. Rencana ini merupakan suatu rangkaian pembaharuan yang dilaksanakan Pak Anies demi terciptanya pendidikan yang bermutu, merata dan menyenangkan, yang mana sebelum ini beliau juga mengungkapkan akan membentuk direktorat yang menangani pengelolaan guru. Sungguh ini merupakan contoh yang bagus saat beliau berkreatifitas dalam memimpin kementerian pendidikan.

                   Kembali pada pendidikan orang tua, apakah memang dirasa perlu  penyelenggaraanya sehingga Kemdikbud harus membuat direktorat khusus?

                   Tentang peran penting orang tua dalam pendidikan anak sepertinya sebuah kelaziman di setiap tempat dan waktu. Namun apakah peran tersebut sudah optimal sehingga pemdidikan anak-anak sudah bisa dikatakan berhasil? Selama kurang lebih 22 tahun mengajar di sekolah menengah swasta, penulis menemukan amat sedikit (kalau tidak bisa dikatakan nihil) orang tua yang mau datang ke sekolah demi melihat perkembangan anaknya di sekolah. Bila mereka dipanggil, maka yang paling sering datang adalah wakilnya (bisa saudara tua, paman, bibi, bahkan tetangga). Dan yang amat memprihatinkan, mereka kebanyakan tidak tahu kelakuan anaknya di sekolah, apakah rajin ke sekolah atau sering membolos. Apalagi kalau panggilan tentang rapat keuangan sekolah, mereka tidak mau tahu apakah sumbangan atau tambahan biaya sekolah itu untuk peningkatan belajar siswa. Yang ada dalam celotehan mereka adalah sekolah selalu minta pungutan. Padahal, bila mereka mau melihat sekolah lain yang lebih maju, sumbangsih dari orang tua amat membantu sekolah dalam peningkatan mutu proses pembelajaran para siswanya.

                  Dari sekilas pengalaman di atas, kita dapat mencari suatu solusi dalam menjembatani antara kepentingan sekolah, kebutuhan anak dan kepedulian orang tua, yakni perlu adanya rujukan bagi orang tua untuk berkonsultasi atau mencari sumber terpercaya tentang peran, kewajiban dan hak serta apa yang dibutuhkan orang tua dalam membantu pendidikan anak-anak mereka di sekolah, madrasah, atau pendidikan non-formal. 

                    Dalam kaitan perlunya pendidikan untuk orang tua siswa, maka paling tidak ada 3 (tiga) hal pokok yang harus dikuasai oleh orang tua, yakni:

(1) Ilmu bagaimana mempersiapkan anak untuk masuk sekolah;

(2) Ilmu bagaimana mendukung pendidikan anak selama bersekolah; dan

(3) Ilmu bagaimana mempersiapkan anak bila lulus sekolah.

 

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN ANAK SEBELUM BERSEKOLAH?

                  Barangkali ini bila ditanyakan pada orang tua siswa, maka semua mereka menyatakan sudah mempersiapkan anaknya semaksimal mungkin. Sebagai contoh, mereka sudah mempersiapkan perlengkapan sekolah, seperti alat tulis, seragam sekolah, tas, sepatu, dlll., bahkan pada anak jenjang SMP dan SMA dibekali dengan kendaraan bermotor. Namun yang dibicarakan dalam tulisan ini, sebagai usulan bagi instruktur atau tutor dalam pendidikan orang tua, adalah kiat atau ilmu yang di luar negeri disebut dengan “Study Skills” (keterampilan belajar). Keterampilan inilah yang akan membuat anak betul-betul siap memulai sekolahnya dengan keyakinan tinggi untuk sukses. Keterampilan ini mencakup keterampilan membaca buku agar bisa cepat menguasai materi, mencatat penjelasan guru agar bisa memahami dengan mudah, mengatur waktu di rumah agar terbiasa disiplin waktu dan keterampilan menuangkan ide-ide dalam diskusi dan tulisan (berarti juga ilmu bagaimana berdiskusi atau berpikir ilmiah). Perlu kita sadari bahwa salah satu kekurangan putra-putri bangsa Indonesia selama ini adalah belum terbiasa mencatat peristiwa atau kejadian sehari-hari dalam buku harian (jurnal) sehingga kita kekurangan dokumentasi sebagai sumber data atau sumber ide tulisan.

 

BAGAIMANA MENDUKUNG KEGIATAN BELAJAR ANAK SELAMA BERSEKOLAH?

                       Mirip dengan subjudul pertama, banyak orang tua merasa sudah mendukung kegiatan belajar anaknya dengan, misalnya, memberi uang saku, penyediaan alat transportasi dan alat komunikasi (telepon seluler, sabak elektronik), bahkan komputer jinjing. Namun, bukan sekedar itu saja; anak perlu diawasi dan dipantau sejauh mana kegiatan belajar mereka di sekolah dan di luar sekolah.  Artinya, orqang tua harus memiliki ilmu bagaimana mengawasi atau memantau anak dan bagaimana mengatasi permasalahan yang muncul berkaitan dengan kegiatan mereka selama bersekolah. Sebagai contoh, rajinnya anak pergi ke sekolah belum tentu menunjukkan anak tersebut rajin belajar, sebab betapa sering anak pergi dari rumah tepat waktu dan pulang ke rumah juga tepat waktu. Akan tetapi, bila orang tua tidak mengawasi kegiatan pergi-pulang ini, maka mereka  tidak tahu bahwa ternyata anak mereka sering membolos (kepergian mereka tidak menuju ke sekolah).

                       Begitu juga, bila melihat anak mereka sepulang sekolah tidak keluar-keluar rumah lagi, namun mengendap di kamarnya, maka orang tuian janganlah lekas merasa puas atau senang. Kenapa? Orang tua perlu tahu, apa yang mereka kerjakan di kamarnya. Bila mereka ternyata asyik dengan ponsel pintar atau sabak elektronik, maka orang tua harus tahu apa yang mereka buka.  Di zaman digital ini, sumber bacaan sekaligus tontonan sudah tersedia melimpah-ruah di mana saja selama terhubung dengan internet. Dan sumber itu selalu berujung pada dua muara: POSITIF dan NEGATIF. Kalau yang dibuka anak di ponsel atau sabel (sabak elektronik)  pada ranah positif, itu yang kita harapkan. Namun, bila yang dibuka bernuansa negatif, maka ini yang mesti dihindarkan. Ingatlah, wahai bapak-ibu para orang tua sekalian (juga calon bapak-ibu), korban pelecehan seksual atau rudakpaksa terus bertambah kuantitas dan kualitasnya. Di tahun 70-an dan 80-an amat jarang kita dengar atau kita baca tentang pelecehan seksual. Tapi, kini di era menjelang dan era 2000-an, sudah semakin banyak dan bukan hanya pada lawan jenis tapi sesama jenis dan yang lebih parah lagi pelaku dan korbannya adalah anak-anak. Semoga Tuhan melindungi kita semua.

                Selain itu juga, orang tua harus tahu perkembangan mental atau kelakuannya sehari-hari. Banyak orang tua yang merasa aman ketika melihat anaknya memiliki teman yang banyak dan barangkali teman yang dekat. mereka beranggapan bahwa anaknya pandai bergaul dan disenangi banyak orang. Namun, bila orang tua memiliki ilmunya, maka ternyata bisa saja anaknya korban perundungan sehingga kebebasan berekspresinya dikekang oleh temannya yang superior. Dengan kata lain, anaknya di bawah tekanan sekelompok temannya.

                        Yang penting lagi dalam masa bersekolah ini, orang tua harus bisa memotivasi anak agar kreatif dan mandiri dengan harapan mereka bisa sukses tanpa menyusahkan orang lain dan mampu meraih cita-cita mereka yang tinggi sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Dalam hal ini, perlu dicamkan para orang tua, bahwa angka nilai hasil belajar bukan satu-satunya penentu keberhasilan anak di masa mendatang. Dalam kenyataan di kehidupan sehari-hari, anak-anak yang sedang-sedang saja dalam prestasi akademik, lebih sukses dibandingkan dengan teman-temannya yang menonjol dalam pelajaran. Jadi, orang tua tidak perlu “memaksa” anaknya, misalnya agar juara kelas.  Di dunia pendidikan antar bangsa, sekarang dipegang teori “Kecerdasan Ganda” ( “Multiple Intelligence”-teori Howard Gardner), yakni bahwa anak terlahir dengan kecerdasan dan bakat yang berbeda.

 

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN ANAK SELEPAS TAMAT SEKOLAH?

                   Barangkali dengan tulisan ini, cukuplah sampai di sini saja penyakit korupsi membiak di negara kita.  Kita putuskan tali rantainya dengan tidak lagi “memaksa” anak kita selepas tamat dari sekolah untuk menjadi PNS atau aparat negara dengan sogokan. Pernah suatu hari, ada orang tua siswa yang anaknya baru tamat SMA. Dengan bangga ia menemui penulis untuk meminta tolong memasukkan anaknya menjadi polisi dengan bermodalkan uang 100 juta untuk riswah. Penulis tanyakan dari mana ia dapatkan uang sebesar itu, ia menjawab dari hasil menjual kebun. Dalam hati penulis, bila anaknya lulus karena riswah ini, apakah uang sebesar itu dianggap angin lalu saja? Jika tidak, apakah sanggup anaknya mengembalikan uang tersebut dalam waktu dekat? Akhirnya, penulis utarakan pendapatnya pada orang itu, bahwa lebih baik uang itu digunakan untuk modal usaha saja agar uangnya bisa berkembang dan berkah.

                       Ada lagi orang tua yang “memaksa” anaknya untuk kuliah. Padahal, kalau dilihat dari nilai akademiknya, anak tersebut tidak cocok untuk belajar di perguruan tinggi.  Kalau memang orang tua punya modal banyak untuk melanjutkan pendidikan anaknya, barangkali yang lebih baik adalah mengirim anaknya ke pusat pelatihan tenaga kerja agar memiliki keterampilan untuk mencari nafkah.

                   Dalam kehidupan sehari-hari, penulis dapatkan seorang ibu yang  begitu dekatnya dengan anak-anaknya sehingga sampai anaknya sudah bekerja (bersih tanpa sogokan), tetap anak-anaknya tinggal di rumah dan diaarahkan bila mau hidup pisah rumah dengan ayah-ibunya, mereka harus sudah memiliki rumah sendiri. 

 

Jadi, sebagai simpulan, orang tua perlu dididik agar peran mereka semakin terasa dan berpengaruh pada keberhasilan pendidikan anak-anak mereka.  Semoga Tuhan Yang Maha Esa memudahkan urusan kita ini. Aamiin.

 

(selesai ditulis oleh Erlan Agusrijaya, di Palembang, 25 Rabi’ul Awwal 1436/ 16 Januari 2015 pada pukul 01:46 WIB)

 

TIK MENANTANG PROFESIONALITAS DAN KREATIFITAS GURU: SEBUAH MAKALAH

                                                                                                                                                                                              

Abstrak

Perkembangan yang amat cepat dalam TIK (teknologi informasi dan komunikasi) telah menghasilkan sebuah tambahan media bagi pendidik, apakah sebagai sumber belajar atau sebagai alat bantu. Media itu diistilahkan dengan multimedia. Tulisan ini membahas konsep apa itu multimedia dan apa kelebihan dan kekurangan atau kendala dalam penggunaan TIK dalam pembelajaran. Tentu saja beberapa sumbangsih solusi dan saran ditawarkan dalam tulisan ini bagi para guru agar mereka lebih profesional dan kreatif menggunakan teknologi ini.

 

Kata Kunci: TIK, komputer, internet, multimedia, surel

 


 

  1. Pendahuluan

 

                Sejak tahun 1990-an kita di Indonesia secara bertahap memasuki kurun waktu yang mana teknologi digital diperkenalkan. Barangkali kita masih ingat PC (personal computer) yang waktu itu masih berwarna hitam-putih dan belum memiliki gambar, apalagi video. Kemudian kita temui di pasar-pasar dan pertokoan elektronik para pedagang menjual perangkat Game Watch dan Nintendo (cikal-bakal PS (Play Station). Pada waktu juga kita lihat orang-orang mulai banyak memakai jam tangan yang tidak lagi bertenaga per (memakai gaya mekanik), yaitu arloji yang memeragakan bilangan dan bertenaga batere. Menyusul kemudian televisi yang memakai perangkat remote control yang menggantikan fungsi tombol-tombol. Dan perangkat telepon rumah dan kantor (fixed-telephone) sudah menggantikan alat pemutar dengan papan tombol. Dan perangkat komunikasi bergerak (mobile) pada masa ini baru berhasil mengoperasikan teks dalam jumlah terbatas yang ditulis oleh operator telepon yang dipesan oleh seseorang. Teks itu dibaca pada perangkat Pager yang dibawa oleh pelanggan.

                Menjelang era milenium (tahun 2000-an) seiring dengan ditemukannya aplikasi hypertext yang bernama WWW (World Wide Web) dan dengan pengembangan yang luar biasa pada perangkat keras komputer , penggunaan komputer dan internet menerobos semua aspek kehidupan dan aktivitas manusia secara besar-besaran. Seiring dengan itu, pager mulai diganti dengan telepon seluler atau disingkat ponsel (yang diganti secara salah kaprah oleh orang Indonesia dengan istilah “handphone atau hape”). Dan dalam waktu lima sampai sepuluh tahun kemudian, ketiga ikon teknologi milenium tersebut (komputer, internet dan ponsel) telah berkembang pesat dan terus meningkatkan kecanggihan teknologinya demi memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat. Sebagai contoh, pada teknologi komputer, beberapa peranti telah telah diciptakan: (1) CD drive yang kemudian berkembang menjadi DVD drive – peranti keras yang mampu menyimpan data pada kepingan (cakra) CD atau DVD dan tentu saja mampu memutar filem atau video dari cakra tersebut; (2) proyektor LCD yang menayangkan isi layar komputer ke layar atau dinding sebesar diagonalnya lebih dari 40 inci. Sejalan dengan kemajuan pada perangkat komputernya, maka internet pun telah maju dengan dilengkapinya aplikasi hypertext dengan aplikasi audio dan video, dan orang tidak lagi hanya bisa kirim-mengirim tulisan (dokumen, karya tulis, dll), namun juga file berisi audio (suara) dan video melalui pos elektronik atau surel (email) mereka. Dan saat ini, ketiga bentuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) itu berhasil dipadukan dalam satu perangkat gadget yakni ponsel pintar (Smartphone) atau sabak eletronik (Tab=PC Tablet versi terbaru).

                Sebagai pemakai teknologi, para guru mau tidak mau harus menghadapi tantangan baru ini sehingga ia harus mengambil sebuah sikap antara dua: apakah ia tetap berkutat dengan cara lama dalam pembelajaran di kelas atau mau menggunakan TIK sebagai media pembelajaran. Bila disadari dengan mendalam, guru yang ingin profesional dalam menjalankan tugasnya, maka ia harus memaksimalkan kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelasnya, seperti dengan adanya variasi teknik mengajar dan penggunaan media. Artinya, para guru yang profesional membutuhkan daya kreasi pada strategi belajar-mengajar sehingga kelasnya menjadi dinamis dalam mencapai tujuan instruksionalnya.

                Akibat persaingan bisnis yang semakin ketat dalam pemasaran produk TIK, maka perangkat-perangkat yang menggunakan TIK semakin terjangkau harganya sehingga sekolah-sekolah dan perkantoran semakin banyak menyediakan fasilitas yang memakai TIK.

                Dalam pengamatan penulis selama 22 (duapuluh dua) tahun menjadi guru DP (PNS yang dipekerjakan di sekolah swasta), para guru dan kepala sekolah yang penulis temui dahulu menyebutkan bahwa sekolah mereka telah memiliki multimedia apabila sudah memiliki perangkat pemutar CD atau DVD dengan televisi layar lebar (minimal 21 inci). Beberapa tahun kemudian, sekolah-sekolah menerapkan pemakaian proyektor LCD dalam proses KBM (kegiatan belajar-mengajar), dan dengan ini mereka nyatakan telah memakai multimedia. Namun, ada beberapa sekolah yang menyatakan bahwa yang sebenarnya yang telah menggunakan TIK adalah sekolah yang telah menggunakan internet, atau dengan istilah yang lebih populer “sekolah yang ada hotspotnya”.

                Di ruangan kelas di sekolah-sekolah yang penulis temui, kebanyakan para guru yang telah menerapkan TIK dalam pembelajarannya mereka menggunakan Powerpoint. Dan terkesan bahwa multimedia yang mereka maksudkan adalah aplikasi Powerpoint. Namun, penulis lihat slide-slide yang mereka pakai hanyalah berisi teks dan sekali-sekali gambar. Dan kegiatan belajar-mengajar mereka hanya berbeda tipis dengan kelas yang tidak memiliki fasilitas komputer dan proyektor LCD. Aktivitas siswa kedua kelas sama: mereka duduk dengan mata menatap ke depan mendengarkan penjelasan guru.

Apakah benar konsep multimedia yang disosialisasikan kepada sekolah? Apakah sekolah yang telah menggunakan multimedia bisa dikatakan telah mengimplementasikan pendidikan berbasis TIK? Apa yang sebaiknya dilakukan para guru agar menjadi lebih profesioanal dan kreatif dalam penggunaan multimedia?

 

  1. Pembahasan

 

                Dalam menetapkan strategi belajar-mengajar yang sesuai , guru menggunakan media yang cocok agar materi pembelajarannya dapat tersampaikan atau tersalurkan dengan baik kepada pembelajar (siswa atau peserta didik). Media di sini, menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain [1], terbagi dua, yakni media sebagai sumber belajar dan media sebagai alat bantu belajar.

                Sebagai sumber belajar, maka dengan menggunakan media guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mendapatkan informasi, ilmu pengetahuan dan keterampilan dari media tersebut. Sedangkan, sebagai alat bantu, media membuat para siswa lebih mudah memahami ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan oleh guru.

                Dalam pengelompokan media pembelajaran menurut perkembangan teknologi, mengadopsi dan mengadapsi keterangan Azhar Arsyad [2] dan Dennny Setiawan [3], terbagi dua: (1) Media Tradisional, dan (2) Media Mutakhir. Yang termasuk media tradisional adalah: (1) media visual diam yang tidak diproyeksikan, seperti gambar, poster, foto, grafik, dan chart ; (2) media visual diam yang diproyeksikan, seperti slide, transparansi OHP, dan filmstrip; (3) media visual bergerak, seperti film, video dan televisi; (4) media audio, seperti radio, tape recorder, cassette, dan piringan hitam; (5) media cetak, seperti buletin, tabloid, majalah, koran, pamplet, buku, dan ensiklopedi; (6) media realia, seperti miniatur mobil, sample, specimen, peta, dan boneka. Sedangkan media mutakhir adalah media yang berbasis komputer atau TIK, seperti multimedia.

                Penulis berkeyakinan bahwa semua guru paham tentang konsep media tradisional di atas mengingat dahulu penulis pada saat mengikuti perkuliahan baik di jenjang Diploma maupun S1ada mata kuliah yang membahas tentang strategi pembelajaran yang ruang lingkupnya termasuk penggunaan alat peraga dan media. Namun, bila dikaitkan dengan penggunaan media berbasis TIK, dalam pengalaman penulis, amat sedikit guru yang paham, terutama yang telah berusia 40 tahun ke atas.

               Dalam istilah dunia komputer atau TIK, multimedia adalah presentasi yang menggabungkan informasi yang menggunakan gabungan teks, gambar, animasi, suara dan video [4]. Jadi, multimedia merupakan sebuah program komputer yang menggabungkan semua elemen-elemen tersebut. Ia bisa berupa, misalnya, permainan (games), peranti lunak untuk pembelajaran (learning software) atau materi rujukan (reference material), yang mana bisa disimpan di CD-ROM, kartu memori,USB Flashdisk atau di internet.

                Powerpoint, seperti yang disebut terdahulu dalam tulisan ini, menurut pengamatan penulis adalah sebagian kecil saja fiturnya yang digunakan, yakni sebatas teks dan beberapa animasi saja. Teks yang ditulis oleh guru dalam slide-slidenya pun sebatas copy-paste dari buku teks atau buku pegangan (sehingga slide yang ditampilkan kurang menarik). Padahal prinsip kemanfaatan dari media ini hanyalah sebagai alat bantu dalam presentasi materi pembelajaran, bukan menggantikan guru (sebagai sumber belajar); dengan kata lain yang amat berperan adalah orasi gurunya. Perlu diingat, ada seorang mantan CEO perusahaan komputer Apple yang diakui kepiawaiannya (termasuk oleh pesaing bisnisnya dari Microsoft) dalam memperkenalkan produk-produk Apple, seperti Ipad dan Iphone. Setiap ia tampil dalam presentasinya, slide yang ia tayangkan amat sederhana dan sedikit kata. Namun, itulah letak kekuataannya: minim kata, tapi luar biasa orasinya [5].

Selain dari kurang efektif dalam penulisan teks pada Powerpoint, para guru juga amat jarang sekali memanfaatkan fitur tambahan, seperti menghyperlink file suara, film, atau video. Padahal versi aplikasi Microsoft Office yang digunakan (yakni MS Office 2003) sudah memiliki fitur tersebut.

               Apabila Powerpoint yang dibuat oleh guru memang menarik dari segi desain dan penulisan kata-kata pokok atau kunci, dan memang mengoptimalkan fitur audio-visualnya, maka penulis yakin multimedia yang diterapkan di kelas dapat memberikan perbedaan yang nyata antara kelas yang berbasis TIK dengan kelas tradisional dalam peningkatan mutu proses belajar-mengajar.

                Dalam kaitannya sebagai sumber belajar, multimedia akan mencapai puncak kemanfaatannya bila terhubung dengan jaringan internet, atau dengan istilah “online (daring = dalam jaringan)”. Keadaan daring betul-betul memasukkan kegiatan belajar-mengajar dalam dunia yang hampir tak terbatas informasi dan komunikasinya. Bahkan, ia bisa menggantikan gurunya dalam banyak sisi, sehingga multimedia daring dapat menghubungkan guru dengan siswanya tanpa batas waktu dan jarak.

                Sebagai contoh pembelajaran daring adalah pembelajaran berbasis web. Di sini guru membuat website untuk menyajikan materi pembelajarannya yang dilengkapi dengan evaluasi belajarnya, baik dalam bentuk teks, gambar, suara, animasi dan video. Para siswa tidak hanya mengunjungi situs gurunya saja tetapi juga diharuskan berinteraksi dengan gurunya melalui surel (email) atau ruang percakapan (chatting room) serta dianjurkan mencari materi tambahan di situs lain. Dalam laporan penelitiannya, Tarmizi Abubakar [6] mengutip penemuan Schutte (1997) bahwa pembelajaran berbasis web lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran di kelas tradisional, yakni prestasi belajar siswa yang mengikuti kelas berbasis web lebih tinggi 20 % dari siswa kelas tradisional. Dan ternyata, pencarian sumber belajar lain dengan internet lebih disukai siswa daripada mencarinya di luar internet, seperti yang dilaporkan oleh Masda Simatupang dan Soni Mirizon [7].

                Kecepatan akses internet sepuluh tahun terakhir terus melambung tinggi akibat jaringan kabel memakai serat optik (fibre optik) yang berlipat ganda kemampuannya dibandingkan kabel tembaga atau aluminium. Kondisi ini membuat pebisnis atau pencari peluang bisnis berlomba-lomba memasukkan banyak calon pelanggan bisnis ke komunitasnya di internet. Sebagai contoh usaha mereka adalah menawarkan situs (website) sebagai wahana tempat membuat blog (weblog) dimana siempunya blog (blogger) menuangkan ide, pikiran dan mengunggah dokumen multimedianya. Contoh usaha lain adalah membuat jejaring sosial, dimana siapa saja yang mau berteman dapat berinteraksi secara realtime maupun asynchronous dan tukar menukar dokumen multimedia masing-masing dalam komunitas jejaring sosial ini. Salah satu situs penyaji weblog gratis yang sering dipakai saat ini adalah http://www.wordpress.com , dan contoh jejaring sosial yang paling banyak dipakai oleh penduduk dunia saat ini adalah Twitter dan Facebook.

                Dalam pembelajaran berbasis internet, siswa dan guru lebih luas lagi kegiatannya dan lebih banyak frekuensi pertemuannya bila mereka semua tergabung dalam suatu jejaring sosial dan masing-masing guru membuat blog. Dalam pengalaman penulis, berinteraksi dengan para peserta didik melalui Facebook lebih efektif daripada melalui surel. Hal in disebabkan:

  • mereka lebih sering membuka Facebook daripada surel;
  • mereka memiliki surel hanya untuk membuat akun Facebook bukan untuk bertukar dokumen;
  • langkah-langkah membuka dan mengirim dokumen di Facebook lebih mudah daripada di surel.
  • Facebook menyediakan hyperlink untuk blog dan juga sebaliknya, tidak demikian dengan surel, ia hanya mampu mengaitkan (menge-link) ke Facebook tapi tidak sebaliknya.

 

Untuk memenuhi kebutuhan pencarian data terutama informasi dari berbagai disiplin ilmu, guru dan siswa dapat memanfaatkan sebuah situs yang berfungsi sebagai Ensiklopedi Daring (Online Encyclopedia) yang dapat diupdate oleh semua orang di dunia. Namanya Wikipedia. Situs ini, menurut hemat penulis, amatlah menantang guru untuk berkreasi dalam pemberian motivasi kepada siswa dalam pencarian informasi apa saja yang berkenaan dengan pelajaran mereka dan kehidupan sehari-sehari dan yang berkaitan dengan aktualisasi diri mereka agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak, sekaligus juga pemberian bimbingan kepada siswa untuk menghasilkan tulisan ilmiah [8]. Sebagai contoh, dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Daerah, siswa bersama guru bisa mengunggah kosa kata baru yang belum ada dalam kamus besar. Dalam pelajaran Geografi, siswa dan guru dapat mengunggah nama sebuah kota atau desa, atau tempat yang berpotensi wisata yang besar yang dilengkapi denga foto, denah, peta, informasi kependudukan, sumber daya alam, kegiatan seni dan budaya , dan sebagainya. Atau dalam pelajaran sejarah, mereka bisa mengunggah nama sebuah peristiwa yang belum terungkap dalam sejarah populer selama ini.

 

Seperti yang sudah disebutkan di muka, hasil pengembangan TIK mampu menggabungkan teknologi komputer, internet, dan ponsel. Ini artinya dalam konteks pembelajaran yang berbasis TIK, guru dapat memanfaatkan ponsel dalam pembelajaran di kelas. Secara sederhana, tentu saja, para siswa dapat mengakses materi dan tugas dari gurunya yang diunggah ke Facebook. Secara rinci, Hayo Reinders [9] menyebutkan ada 20 cara menggunakan ponsel dalam pembelajaran bahasa. Meskipun beliau mengungkapkannya dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, namun para guru mata pelajaran lain bisa mengambil faedah dari ide beliau. Beberapa cara yang dapat kita pertimbangkan dan kita ambil faedahnya adalah sebagai berikut:

  • Gunakan fitur Catatan (Notes) untuk mengkoleksi kata-kata atau ungkapan bahasa Inggris yang mereka dengar atau baca tiap hari;
  • Gunakan kamera ponsel untuk mengambil foto dokumen berbahasa Inggris dan mengunggah foto tersebut ke Internet (misalnya ke Facebook);
  • Gunakan fitur rekaman untuk merekam jawab siswa, percakapan siswa, dll.;
  • Gunakan fitur SMS untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajari, menulis berantai (tugas menulis dalam bentuk kegiatan yang menarik dan menantang siswa);
  • Gunakan ponsel untuk mengungggah tulisan dan foto ke situs (misalnya Blog);
  • Gunakan ponsel untuk bercakap dan tukar-menukar data di jejaring sosial (misalnya Twitter dan Facebook); dan
  • Gunakan memori (atau kartu memori) ponsel sebagai penyimpan data yang akan dibagi-bagikan kepada peserta didik dan sesama guru.

 

Jadi, nampaknya masih banyak yang harus diketahui dan diterapkan dari pemanfaatan TIK ini oleh guru dalam meningkatkan profesionalitasnya dengan secara kreatif menjadikan komputer dan ponsel sebagai multimedia dalam pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Namun, apakah ilmu dan keterampilan ini dapat diserap dan diimplemantasikan oleh para guru?

Terlepas dari sikap malas dan skeptis, maka para guru hendaknya secara berkala atau bertahap dibekali dengan pengenalan TIK. Hal ini bisa dilakukan dengan:

  • Mengikuti pelatihan atau bintek TIK yang diselenggarakan oleh kantor dinas pendidikan provinsi dan kota/kabupaten;
  • Mengikuti pelatihan yang diselenggarkan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) gugus rayon atau kota/kabupaten;
  • Mengikuti kursus-kursus di lembaga-lembaga pendidikan diploma jurusan teknologi informatika atau kursus-kursus komputer;
  • Belajar atau kursus secara privat dengan bimbingan orang atau guru yang berpengalaman.

 

Dalam pelatihan atau kursus yang diikuti, para guru akan mendapatkan keterampilan yang mendasar seperti menghidupkan dan mematikan komputer, mengenali perangkat keras (hardware) dan lunak (software). Pada perangkat keras, misalnya, mereka mengenali DVD drive dan fungsinya serta mengoperasikannya; perangkat penyimpan data, seperti Flashdisk yang dicolokkan pada lubang USB, serta perangkat proyektor LCD. Pada perangkat lunak, mereka mempelajari berbagai aplikasi, misalnya Microsoft Office, aplikasi untuk perkantoran yang memiliki 3 (tiga) aplikasi yang populer yakni Word untuk menulis dokumen, Excel untuk menghitung data dengan rumus dan pembuatan grafik atau diagram, serta Powerpoint untuk presentasi tulisan, gambar, animasi dan video. Serta yang tidak kalah pentingnya, mereka dapat mengenal internet dan apa saja informasi yang dapat mereka cari di sana.

Sebenarnya,hampir semua sekolah (tentu saja yang sudah dialiri listrik) , sekarang sudah mengajarkan mata pelajaran TIK . Jadi guru yang ingin belajar TIK bisa menyempatkan diri ikut dalam pembelajaran di kelas atau di laboratorium komputer. Jumlah komputer meja (Desktop PC) yang terbatas tidak menjadi masalah mengingat harga komputer jinjing (laptop PC) saat ini sudah amat terjangkau. Dan ukuran be\sar laptop itu pun saat ini juag tidak jadi masalah lagi dengan ditemukannya Notebook. Masalah listrik di sekolah pun pun juga dapat diatasi dengan adanya produk baru yang lebih praktis dan tahan lama baterenya, yakni PC Tablet (disingkat dengan Tab, atau dalam bahasa kita, Sabak Elektronik).

Memang tidak semua guru memiliki semangat yang sama untuk menguasai teknologi ini. Gina Mikel Petrie dan Lisa Avery [10] menyebutkan bahwa para guru dalam hal menghadapi penggunaan teknologi seperti TIK untuk media pembelajaran tergolong dalam 4 (empat) kategori:

  • Golongan Pecinta Teknologi, yakni para guru yang meyakini teknologi mampu mengatasi semua permasalahan dalam pembelajaran;
  • Golongan Pembenci Teknologi, yakni para guru yang meyakini teknologi hanyalah merusak pembelajaran;
  • Golongan Netral, yakni para guru yang berkeyakinan pengggunaan teknologi akan berhasil atau gagal tergantung pada pemilihan pembelajaran yang cocok; dan
  • Golongan Kritis, yakni para guru yang berkeyakian bahwa penggunanaan teknologi itu berpengaruh pada pembelajaran dengan cara yang dalam, kurang jelas, dan tidak dapat diperkirakan sehingga perlu dipertimbangkan aspek sosial-budayanya ketika menggunakan teknologi dan mengevaluasinya.

 

Oleh karena itu, agar pelatihan TIK untuk para guru mencapai sasaran, maka para penentu kebijakan seperti kepala dinas, kepala bidang persekolahan, dan kepala sekolah harus menunjuk instruktur yang mampu mengenali keempat golongan tersebut sehingga obat yang diberi sesuai dengan penyakitnya. Sebenarnya, kepala dinas dan jajarannya saat ini dapat merangsang dan mendorong para guru untuk berkreasi dalam pembuatan media pengajaran dan karya tulis dengan berlandaskan pada PermenPAN no. 16 tahun 2009 tentang Jabatan FungsionaL Guru dan Angka Kreditnya yang mana ada unsur pengembangan diri yang menghendaki adanya kreasi dan inovasi dalam pembelajaran serta karya tulis berupa penelitian tindakan kelas, dan lain-lain.

 

 

  1. Simpulan

                Dari uraian di atas simpulan yang dapat ditarik adalah:

  • TIK mampu menjadikan kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih mudah dipahami, menarik, menantang, dan memotivasi siswa dan guru.
  • TIK mampu menjadikan hubungan guru dan siswa melewati batas waktu dan jarak.
  • TIK mampu memberikan apresiasi dan kepuasan bagi guru dan siswa baik secara pribadi, kelompok, akademik, sosial dan kebangsaan.

 

Adapun saran yang dapat diberikan adalah:

  • Hendaknya guru bersemangat dalam penggunaan TIK mengingat hampir semua siswa sudah memiliki produk teknologi ini, minimal ponsel.
  • Hendaknya guru tidak menunggu jatah pelatihan TIK dari Kedinasan, namun hendaknya proaktif dengan mengikuti kursus dan pendidikan komputer pada sektor non-formal atau informal.
  • Hendaknya guru menyadari bahwa tunjangan profesi guru yang telah diberikan pemerintah semenjak tahun 2008 adalah salah satu amanah agar guru lebih professional dal pelaksanaan tugas mereka.

               

  1. Rujukan

 

[1] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta: Jakarta

 

[2] Prof.Dr.Azhar Arsyad,M.A. 2009. Media Pembelajaran. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

 

[3] Denny Setiawan, dkk. 2008. Komputer dan Media Pembelajaran. Universitas Terbuka: Jakarta

 

[4] William Ditto. “Multimedia”. Dalam Microsoft ® Encarta ® 2009 (CD-ROM). Microsoft Corporation.

 

[5] Wim Permana, S. Kom. 2011. Sepuluh Tips Rahasia Presentasi Spektakuler ala Steve Jobs (Bagian 2). Diakses dari www.pengusahamuslim.com tanggal 9 Oktober 2011.

 

[6] Tarmizi Abubakar. 2003. “Pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis web: Suatu Upaya Difusi Pembaruan Strategi Pembelajaran”. Dalam Forum Kependidikan Vol. 23 No.1. FKIP Unsri: Palembang.

 

[7] Masda S.Simatupang dan Soni Mirizon. 2005. “Using Computer Technology in English Teaching”. Dalam Forum Kependidikan Vol.25 No.1. FKIP Unsri: Palembang.

 

[8] Christine M. Tardy. 2010. “Wrting for the World: Wikipedia as an Introduction to Academik Writing”. Dalam English Teaching Forum Vol.48 No.1. US Departmen of State: Washington DC.

 

[9] Hayo Reinders. 2010. “Twenty Ideas for Using Mobile Phones in the Language Classroom”. Dalam English Teaching Forum Vol.43 No.3. US Departmen of State: Washington DC.

 

[10] Gina Mikel Petrie and Lisa Avery. 2011. “Identifying Our Approaches to Language Learning Technologies: Improving Professional Development” in English Teaching Forum Vol.49 No.3. US Department of State: Washington DC.

 

Ditulis oleh 

Erlan Agusrijaya, M.Pd.

Disdikpora Kota Palembang

erlan25@yahoo.com

 

 

Kerja Besar untuk Pendidikan

Mengikuti alur pemikiran Presiden Jokowi yang mengajak para menterinya dan segenap rakyat mewujudkan visi-misi kepemerintahannya dengan kata-kata “kerja, kerja, dan kerja”, maka dalam pembangunan di bidang pendidikan kerja itu besar sekali, mungkin luar biasa besarnya.

                Dikatakan besar karena bukan hanya besar pada kapasitas dan kualitas kerjanya pada kementerian pendidikan namun juga pada semua kementerian; bukan hanya pada tanggung jawab pemerintah tapi secara moral juga tanggung jawab semua pihak. Artinya bahwa pembangunan pendidikan membutuhkan kepedulian yang besar dari semua elemen bangsa. Konsekuensinya pemerintah harus menampung aspirasi dari semua pihak untuk membantu pendidikan; tidak boleh membiarkan banyak orang mengurusi pendidikan sendiri-sendiri. Namun negara menggerakkan semua insan Indonesia, atau, seperti yang disebutkan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan, negara menumbuhkan gerakan rakyat (Kompas, 12 November 2014).

                Gerakan rakyat ini sebenarnya sudah bisa ditumbuhkan di awal era reformasi, mengingat era ini dikatakan sebagai era bebas bersuara, berserikat dan berkumpul. Namun, apa yang terjadi ternyata pendidikan kita semakin terpuruk. Apakah kita melihat semakin maraknya tindak pidana korupsi dilakukan oleh orang yang tak terdidik? Apakah kita melihat trend tawuran di kalangan pelajar semenjak orde baru sampai sekarang semakin menurun? Apakah minat baca orang Indonesia dibandingkan negara lain sudah dinilai bagus oleh Badan Dunia? Apakah lulusan sekolah dan perguruan tinggi sudah bisa bersaing secara global dengan negara lain? Apakah fasilitas sekolah kita sudah memadai dan merata di seluruh penjuru tanah air? Apakah kompetensi dan kinerja guru sudah bisa dikatakan layak melayani peserta didik? Apakah nasib guru sudah membaik, sudah dapat hidup layak di negeri ini, sudah diapresiasi setinggi-tingginya sehingga guru bisa berkreasi dan berinovasi? Apakah orang tua sudah mau mendukung sepenuhnya terhadap pendidikan anaknya di sekolah? Mana yang lebih dihargai orang tua, nilai yang diberikan guru atau nilai Ujian Nasional? Mana yang bisa memberikan kebanggan orang tua, ijazah sekolah tinggi atau skill (kecakapan) yang tinggi? Apakah suasana sekolah sudah menyenangkan bagi siswa? Apakah kita sadar, perundungan (bullying) semakin banyak terjadi antara peserta didik di sekolah dan perguruan tinggi? Apakah kita sadar, tindak kriminal yang melanda peserta didik, seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan cenderung meningkat?

                Masih banyak indikator yang bisa kita ungkapkan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan atau keterpurukan pendidikan di negeri tercinta ini. Namun, dalam tulisan ini cukuplah pertanyaan yang disebutkan di atas sebagai pemicu kesadaran kita bahwa pendidikan kita membutuhkan kerja besar. Perekat bangsa agar bisa memulai kerja besar ini sudah ada sebelum kemerdekaan. Semboyan kerjanya pun sudah kita kenal. Patokannya telah terpancang. Apa itu? Bapak Pendidikan kita telah mengemukannya, yakni “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” (Di depan memberikan keteladanan, di tengah memberikan bimbingan, di belakang memberikan dorongan).

                Memang titik sentral dalam pendidikan adalah guru. Pak Anies menegaskan hal ini dalam sambutannya pada HGN (Hari Guru Nasional) tanggal 25 November 2014 yang lalu. Semboyan itu mau tak mau memang harus dijalankan oleh guru baik di sekolah maupun di luar sekolah. Itulah yang dimaksud bahwa guru adalah yang ditiru dan digugu. Namun, apakah usaha dan kerja guru bisa mendatangkan hasil yang maksimal bagi pendidikan anak bangsa kita dalam konteks kekinian?

Guru perlu didukung oleh orang tua murid agar semua arahan, nasehat, pengajaran pada anak mereka dapat diserap dan tertanam dengan baik pada diri anak-anak mereka; agar semua tugas yang diberikan guru dapat dipahami dan dilaksanakan anak mereka di rumah. Ini berarti pekerjaan Kemendikbud bertambah karena ternyata orang tua siswa perlu dididik. Guru perlu didukung oleh dunia usaha agar tuntutan hidup mereka tidak terlalu membebani. Ini berarti membutuhkan campur tangan Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan atau Menko Perekonomian. Guru perlu didukung oleh dunia kerja agar ilmu dan keterampilan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau instansi yang dituju lulusan pendidikan. Ini berarti membutuhkan keterlibatan Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Perindustrian. Guru perlu didukung oleh media massa baik cetak ataupun elektronik agar informasi yang tersedia bisa memuaskan kebutuhan mereka dan peserta didik terhadap materi ajar dan media pembelajaran, bebas dari informasi negatif yang meracuni pemikiran dan meliarkan nafsu berahi, bersih dari bacaan atau tayangan yang memicu kekerasan dan provokasi. Ini berarti membutuhkan perhatian Menteri Komunikasi dan Informatika.

Kembali pada semboyan Ki Hajar Dewantara. Apa yang diharapkan pada semua pihak dalam kerja besar dengan berlandaskan pada semboyan ini? Pada prinsip “ing ngarso sung tulodo”, semua pihak diharapkan memberikan contoh yang baik bagi anak bangsa. Sebagai contoh, pejabat negara dari semua kementerian dan lembaga menunjukkan pelayanan yang baik dengan rakyat, bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme serta tidak membanggakan kemewahan. Dunia penyiaran menayangkan atau menyiarkan acara yang memacu prestasi-prestasi baik anak bangsa, karya kreatif dan inovatif peserta didik yang mempromosikan kekayaan dan keindahan alam Indonesia serta kearifan lokal. Pada prinsip “ing madya mangun karso”, kerja yang diharapkan adalah seperti dunia industri yang memberikan masukan kurikulum atau silabus pada sekolah agar lulusan sekolah menjadi siap pakai untuk dunia industri. Dan salah satu yang penting di sini adalah bimbingan yang diberikan masyarakat luas agar cepat bereaksi bila ada siswa yang mau tawuran atau kebut-kebutan di jalan dengan cara memberikan perhatian bila ada sekelompok siswa yang membolos sekolah (berkeliaran di luar sekolah dengan berseragam sekolah pada jam sekolah). Pada prinsip “tut wuri handayani”, semua pihak memberikan dorongan, seperti pada dunia usaha memberikan dana bea siswa untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Namun dalam hal ini, patut sekali dipertimbangkan kompetensi lulusan yang diharapkan agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja terutama pada skala prioritas pembangunan pemerintahan Jokowi yang berfokus pada maritim. Dengan demikian, dorongan atau motivasi yang diberikan tepat sasaran. Sebagai contoh, anak yang berprestasi dalam pelajaran IPA, maka ia diarahkan agar mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan kelautan, misalnya teknologi perkapalan, biologi laut, budi daya perikanan dan tumbuhan laut, dan lain-lain.

Pengalaman penulis menunjukkan bahwa para peserta didik kurang mendapatkan motivasi dari guru apalagi dari orang tua. Bila ada yang mendapatkan motivasi, itu pun kurang sesuai, misalnya motivasi terhadap hadiah uang atau barang mewah dari orang tua (mobil sedan, dll) demi memperoleh nilai tinggi. Dimana kurang sesuainya? Jawabannya ada pada sikap dan tindakan orang tua yang menjanjikan hadiah. Bila mereka menutup mata (tidak mau tahu) terhadap tindakan curang anak mereka yang mencontek atau mencuri kunci jawaban, maka motivasi yang diberikan kurang sesuai. Seharusnya setiap kegiatan pembelajaran diawali dengan motivasi mengiringi apersepsi. Misalnya, pada pembelajaran geografi, guru memberikan motivasi pada siswa misalnya dengan pertanyaan yang menanyakan kegunaan peta dilanjutkan dengan manfaat ilmu peta bagi masa depan mereka. Kebanyakan kelesuan atau kurang semangat belajar adalah akibat tidak ada atau kurangnya motivasi. Di sekolah mereka tidak mendapatkan motivasi dari guru, misalnya mata pelajaran matematika, apalagi di rumah, tugas yang sulit dan tidak ada motivasi dari orang tua. Alhasil, siswa tersebut malas belajar matematika. Maka, solusi idealnya adalah bahwa guru di sekolah dan orang tua siswa di rumah sama- sama memberikan dorongan atau motivasi. Tut wuri handayani.

 

 

Belajar Bahasa Arab Dapat Menambah Kecerdasan? Benarkah?

Salah satu keutamaan belajar bahasa Arab adalah akan bertambahnya kecerdasaan seseorang, ia akan lebih peka terhadap suatu hal dan pikirannya menjadi terbuka dan tidak terpaku pada sesuatu, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,

تَعَلّمُوْا العَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا تُثَبِّتُ العَقْلَ ، وَتَزِيْدُ فِي المُرُوْءَةِ

“Pelajarilah bahasa arab, karena ia dapat menguatkan akal dan menambah kewibawaan

(Imam Baihaqi dalam Syu’aibul Imaan, Maktabah Syamilah).

Lalu apa sebenarnya yang membuat bahasa arab dapat menambah kecerdasan?

Hal ini karena, ketika kita mempelajari bahasa Arab ataupun membaca tulisan berbahasa Arab, otak kita akan memproses apa yang kita baca dan lihat, ketika dia tidak memahami bahasa Arab, maka hal itu tidak ada gunanya, akan tetapi ketika dia sudah memahami bahasa Arab, dia akan lebih fokus berfikir.

Kenapa? Hal ini karena Bahasa Arab berbeda dengan bahasa Indonesia, susunan dalam bahasa Indonesia adalah baku hanya mempunyai satu makna dan mudah dipahami, sedangkan susunan bahasa arab berbeda-beda serta dapat mempunyai banyak makna, sehingga terkadang kita sulit untuk memahami apa maksud dari kalimat tersebut.

Selain itu, ketika kita membaca kitab berbahasa Arab (kitab gundul), kita dituntut untuk menganalisis tiap kata yang ada, kedudukannya, fungsinya, harokatnya, karena ketika salah menganalisis, menjadikan arti yang didapat menjadi salah, yang akhirnya pemahaman kita menjadi salah pula.

Coba perhatikan contoh berikut:

أعطى محمد كتابا

Dari kalimat di atas, kita harus menganalisis, harokat apakah yang cocok untuk kalimat tersebut dan makna seperti apakah yang diinginkan. Sehingga ketika kita ingin mengatakan
أَعْطَى مُحَمَّدٌ كِتَابًا (Muhammad memberi kitab )
Kita harus menganalisisi, bahwa dari pengucapan di atas, mengindikasikan bahwa, مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai Fa’il (subjek), sedangkan كِتَابًا sebagai objek, karenaأَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum.

Namun, benarkah pengucapan seperti itu?
Jika kita menganalisis dengan teliti, maka kita akan tahu bahwa, kata kerja أَعْطَى (memberi) harus mempunyai dua objek (dari artinya sudah jelas membutuhkan dua objek), sedangkan kalimat di atas hanya mempunyai satu objek, jika أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum, maka kalimat tersebut tidak mempunyai arti yang dimaksudkan, kepada siapa Muhammad memberi kitab?? Arti menjadi rancu, sehingga pengucapan di atas kurang tepat.
Lalu bagaimana pengucapan yang benar?

Jawabnya adalah sebagai berikut:
(Muhammad telah diberi kitab) أُعْطِيَ مُحَمَّدٌ كِتَابًا
Kata kerja أعطى harus diposisikan sebagai fi’il majhul, karena ia harus mempunyai dua objek jika diposisikan sebagai fi’il ma’lum, sedangkan kata مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai na’ibul fa’il (pengganti fa’il) dan كِتَابًا sebagai objek, sehingga arti dari kalimat di atas, “Muhammad diberi kitab”, dan ini yang benar. Mungkin anda akan bertanya, “kan kalimat di atas masih rancu, siapa yang memberi Muhammad kitab?”

Jawabnya, di dalam bahasa Arab, ketika fi’il ma’lum diubah menjadi majhul, mengindikasikan ada fa’il yang dihapus dan digantikan dengan objeknya (coba lihat kembali pembahasan na’ibul fa’il), sehingga, ketika seseorang mengucapkan hal di atas, orang yang diajak berbicara pasti akan mengetahui maksud perkataannya.

Lebih mudahnya perhatikan kalimat berikut, jika dikatakan:

أَعْطَى مُحَمَّدٌ وَحْيًا

(Muhammad memberi wahyu)

Maka ini adalah pengucapan yang salah, namun jika di ucapkan
أُعْطِىَ مُحَمَّدٌ وَحْيًا (Muhammad telah diberi wahyu)
Maka ini adalah pengucapan yang benar, walaupun fa’ilnya tidak disebutkan, kita dapat mengetahui maksud dari pengucap adalah “Muhammad telah diberi wahyu oleh Allah”. Dan ingat, fa’il dan nai’bul fa’il tidak bisa dirangkaikan dalam satu kalimat.

Begitu pula dalam contoh kalimat,

الْيَوْمُ يَوْمُ الأَحَدِ

(Hari ini adalah hari Ahad)

Kita harus menganalisis, apa kedudukan dari tiap kata tersebut, sehingga pemaknaan dan maksud yang diinginkan tersampaikan (coba bagi para pembaca untuk menentukan kedudukan serta arti dari kalimat di atas).

Dengan hal inilah mengapa mempelajari bahasa Arab dapat meningkatkan kecerdasan. Materi-materi yang sudah diberikan harus bisa dipahami dan dipraktekkan. Sehingga wajar saja bila para ulama kita, ketika memberi fatwa, mereka bisa memberikan jawaban yang tepat dan mencakup banyak hal.
Dan perlu diketahui, bahasa Arab dapat dijadikan ajang teka-teki bagi para santri untuk mengasah kemampuan dia dalam berbahasa Arab dan tentunya dalam berpikir.

Semoga bermanfaat..
Disadur dari http://badaronline.com

Uji T (t-TEST)

Bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian dengan metode eksperimen, ini ada file tentang Uji T (t-Test) yang digunakan untuk menguji apakah ada peningkatan yang siginifikan terhadap perlakuan (treatment) atau ada pengaruh yang signifikan dari perlakuan tersebut. Silahkan klik tautan dibawah ini

Uji T (T-Test)

Powerpoint for my Class (Research on Language Teaching)

This is a powerpoint file containing my teaching materials on the course “Research on Language Teaching” at Universitas PGRI in Palembang City, South Sumatra Province, Indonesia

Educational Research (edited)

A Sample of Powerpoint for the Thesis Examination

Pak Erlan’s Presentation in the Thesis Examination

For the under-/graduate students who will take the final examination, here is my powerpoint used in my exam. You are allowed to modify the slides as you wish. Good luck.