Blog Archives

Kerja Besar untuk Pendidikan

Mengikuti alur pemikiran Presiden Jokowi yang mengajak para menterinya dan segenap rakyat mewujudkan visi-misi kepemerintahannya dengan kata-kata “kerja, kerja, dan kerja”, maka dalam pembangunan di bidang pendidikan kerja itu besar sekali, mungkin luar biasa besarnya.

Dikatakan besar karena bukan hanya besar pada kapasitas dan kualitas kerjanya pada kementerian pendidikan namun juga pada semua kementerian; bukan hanya pada tanggung jawab pemerintah tapi secara moral juga tanggung jawab semua pihak. Artinya bahwa pembangunan pendidikan membutuhkan kepedulian yang besar dari semua elemen bangsa. Konsekuensinya pemerintah harus menampung aspirasi dari semua pihak untuk membantu pendidikan; tidak boleh membiarkan banyak orang mengurusi pendidikan sendiri-sendiri. Namun negara menggerakkan semua insan Indonesia, atau, seperti yang disebutkan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan di sebuah harian nasional, negara menumbuhkan gerakan rakyat.

Gerakan rakyat ini sebenarnya sudah bisa ditumbuhkan di awal era reformasi, mengingat era ini dikatakan sebagai era bebas bersuara, berserikat dan berkumpul. Namun, apa yang terjadi ternyata pendidikan kita semakin terpuruk. Apakah kita melihat semakin maraknya tindak pidana korupsi dilakukan oleh orang yang tak terdidik? Apakah kita melihat trend tawuran di kalangan pelajar semenjak orde baru sampai sekarang semakin menurun? Apakah minat baca orang Indonesia dibandingkan negara lain sudah dinilai bagus oleh Badan Dunia? Apakah lulusan sekolah dan perguruan tinggi sudah bisa bersaing secara global dengan negara lain? Apakah fasilitas sekolah kita sudah memadai dan merata di seluruh penjuru tanah air? Apakah kompetensi dan kinerja guru sudah bisa dikatakan layak melayani peserta didik? Apakah nasib guru sudah membaik, sudah dapat hidup layak di negeri ini, sudah diapresiasi setinggi-tingginya sehingga guru bisa berkreasi dan berinovasi? Apakah orang tua sudah mau mendukung sepenuhnya terhadap pendidikan anaknya di sekolah? Mana yang lebih dihargai orang tua, nilai yang diberikan guru atau nilai Ujian Nasional? Mana yang bisa memberikan kebanggan orang tua, ijazah sekolah tinggi atau skill (kecakapan) yang tinggi? Apakah suasana sekolah sudah menyenangkan bagi siswa? Apakah kita sadar, perundungan (bullying) semakin banyak terjadi antara peserta didik di sekolah dan perguruan tinggi? Apakah kita sadar, tindak kriminal yang melanda peserta didik, seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan cenderung meningkat?

Masih banyak indikator yang bisa kita ungkapkan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan atau keterpurukan pendidikan di negeri tercinta ini. Namun, dalam tulisan ini cukuplah pertanyaan yang disebutkan di atas sebagai pemicu kesadaran kita bahwa pendidikan kita membutuhkan kerja besar. Perekat bangsa agar bisa memulai kerja besar ini sudah ada sebelum kemerdekaan. Semboyan kerjanya pun sudah kita kenal. Patokannya telah terpancang. Apa itu? Bapak Pendidikan kita telah mengemukannya, yakni “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” (Di depan memberikan keteladanan, di tengah memberikan bimbingan, di belakang memberikan dorongan).

Memang titik sentral dalam pendidikan adalah guru. Pak Anies menegaskan hal ini dalam sambutannya pada HGN (Hari Guru Nasional) tanggal 25 November 2014 yang lalu. Semboyan itu mau tak mau memang harus dijalankan oleh guru baik di sekolah maupun di luar sekolah.  Itulah yang dimaksud bahwa guru adalah yang ditiru dan digugu. Namun, apakah usaha dan kerja guru bisa mendatangkan hasil yang maksimal bagi pendidikan anak bangsa kita dalam konteks kekinian?

Guru perlu didukung oleh orang tua murid agar semua arahan, nasehat, pengajaran pada anak mereka dapat diserap dan tertanam dengan baik pada diri anak-anak mereka; agar semua tugas yang diberikan guru dapat dipahami dan dilaksanakan anak mereka di rumah. Guru perlu didukung oleh dunia kerja agar ilmu dan keterampilan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau instansi yang dituju lulusan pendidikan. Guru perlu didukung oleh media massa baik cetak ataupun elektronik agar informasi yang tersedia bisa memuaskan kebutuhan mereka dan peserta didik terhadap materi ajar dan media pembelajaran, bebas dari informasi negatif yang meracuni pemikiran dan meliarkan nafsu berahi, bersih dari bacaan atau tayangan yang memicu kekerasan dan provokasi.

Jadi kerja besar harus dilaksanakan oleh bangsa ini mulai dari setiap keluarga, segala lapisan masyarakat dan semua lini usaha dan instansi agar generasi emas dapat terwujud.

Advertisements

PENDIDIKAN UNTUK ORANG TUA SISWA, PERLUKAH?

Dalam laman resminya KEMDIKBUD (www.kemdikbud.go.id), dalam bagian berita tertanggal 14 Januari 2015 disebutkan bahwa Mendikbud, Pak Anies Baswedan, akan membentuk direktorat yang menangani peranan orang tua dalam pendidikan. Direktorat ini akan menjadi rujukan bagi orang tua untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keayahbundaan atau peran orang tua dalam pendidikan anak. Selanjutnya dinyatakan juga bahwa direktorat ini dibuat sebagai suatu kebijakan dalam pendidikan orang tua. Sebelumnya dalam berbagai kesempatan Mendikbud sering mengatakan bahwa  orang tua memegang peranan amat penting dalam pendidikan seorang anak.

               Rencana ini patut kita apresiasi dan kita dukung agar dapat terwujud dan difungsikan sebagaimana yang diharapkan. Rencana ini merupakan suatu rangkaian pembaharuan yang dilaksanakan Pak Anies demi terciptanya pendidikan yang bermutu, merata dan menyenangkan, yang mana sebelum ini beliau juga mengungkapkan akan membentuk direktorat yang menangani pengelolaan guru. Sungguh ini merupakan contoh yang bagus saat beliau berkreatifitas dalam memimpin kementerian pendidikan.

                   Kembali pada pendidikan orang tua, apakah memang dirasa perlu  penyelenggaraanya sehingga Kemdikbud harus membuat direktorat khusus?

                   Tentang peran penting orang tua dalam pendidikan anak sepertinya sebuah kelaziman di setiap tempat dan waktu. Namun apakah peran tersebut sudah optimal sehingga pemdidikan anak-anak sudah bisa dikatakan berhasil? Selama kurang lebih 22 tahun mengajar di sekolah menengah swasta, penulis menemukan amat sedikit (kalau tidak bisa dikatakan nihil) orang tua yang mau datang ke sekolah demi melihat perkembangan anaknya di sekolah. Bila mereka dipanggil, maka yang paling sering datang adalah wakilnya (bisa saudara tua, paman, bibi, bahkan tetangga). Dan yang amat memprihatinkan, mereka kebanyakan tidak tahu kelakuan anaknya di sekolah, apakah rajin ke sekolah atau sering membolos. Apalagi kalau panggilan tentang rapat keuangan sekolah, mereka tidak mau tahu apakah sumbangan atau tambahan biaya sekolah itu untuk peningkatan belajar siswa. Yang ada dalam celotehan mereka adalah sekolah selalu minta pungutan. Padahal, bila mereka mau melihat sekolah lain yang lebih maju, sumbangsih dari orang tua amat membantu sekolah dalam peningkatan mutu proses pembelajaran para siswanya.

                  Dari sekilas pengalaman di atas, kita dapat mencari suatu solusi dalam menjembatani antara kepentingan sekolah, kebutuhan anak dan kepedulian orang tua, yakni perlu adanya rujukan bagi orang tua untuk berkonsultasi atau mencari sumber terpercaya tentang peran, kewajiban dan hak serta apa yang dibutuhkan orang tua dalam membantu pendidikan anak-anak mereka di sekolah, madrasah, atau pendidikan non-formal. 

                    Dalam kaitan perlunya pendidikan untuk orang tua siswa, maka paling tidak ada 3 (tiga) hal pokok yang harus dikuasai oleh orang tua, yakni:

(1) Ilmu bagaimana mempersiapkan anak untuk masuk sekolah;

(2) Ilmu bagaimana mendukung pendidikan anak selama bersekolah; dan

(3) Ilmu bagaimana mempersiapkan anak bila lulus sekolah.

 

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN ANAK SEBELUM BERSEKOLAH?

                  Barangkali ini bila ditanyakan pada orang tua siswa, maka semua mereka menyatakan sudah mempersiapkan anaknya semaksimal mungkin. Sebagai contoh, mereka sudah mempersiapkan perlengkapan sekolah, seperti alat tulis, seragam sekolah, tas, sepatu, dlll., bahkan pada anak jenjang SMP dan SMA dibekali dengan kendaraan bermotor. Namun yang dibicarakan dalam tulisan ini, sebagai usulan bagi instruktur atau tutor dalam pendidikan orang tua, adalah kiat atau ilmu yang di luar negeri disebut dengan “Study Skills” (keterampilan belajar). Keterampilan inilah yang akan membuat anak betul-betul siap memulai sekolahnya dengan keyakinan tinggi untuk sukses. Keterampilan ini mencakup keterampilan membaca buku agar bisa cepat menguasai materi, mencatat penjelasan guru agar bisa memahami dengan mudah, mengatur waktu di rumah agar terbiasa disiplin waktu dan keterampilan menuangkan ide-ide dalam diskusi dan tulisan (berarti juga ilmu bagaimana berdiskusi atau berpikir ilmiah). Perlu kita sadari bahwa salah satu kekurangan putra-putri bangsa Indonesia selama ini adalah belum terbiasa mencatat peristiwa atau kejadian sehari-hari dalam buku harian (jurnal) sehingga kita kekurangan dokumentasi sebagai sumber data atau sumber ide tulisan.

 

BAGAIMANA MENDUKUNG KEGIATAN BELAJAR ANAK SELAMA BERSEKOLAH?

                       Mirip dengan subjudul pertama, banyak orang tua merasa sudah mendukung kegiatan belajar anaknya dengan, misalnya, memberi uang saku, penyediaan alat transportasi dan alat komunikasi (telepon seluler, sabak elektronik), bahkan komputer jinjing. Namun, bukan sekedar itu saja; anak perlu diawasi dan dipantau sejauh mana kegiatan belajar mereka di sekolah dan di luar sekolah.  Artinya, orqang tua harus memiliki ilmu bagaimana mengawasi atau memantau anak dan bagaimana mengatasi permasalahan yang muncul berkaitan dengan kegiatan mereka selama bersekolah. Sebagai contoh, rajinnya anak pergi ke sekolah belum tentu menunjukkan anak tersebut rajin belajar, sebab betapa sering anak pergi dari rumah tepat waktu dan pulang ke rumah juga tepat waktu. Akan tetapi, bila orang tua tidak mengawasi kegiatan pergi-pulang ini, maka mereka  tidak tahu bahwa ternyata anak mereka sering membolos (kepergian mereka tidak menuju ke sekolah).

                       Begitu juga, bila melihat anak mereka sepulang sekolah tidak keluar-keluar rumah lagi, namun mengendap di kamarnya, maka orang tuian janganlah lekas merasa puas atau senang. Kenapa? Orang tua perlu tahu, apa yang mereka kerjakan di kamarnya. Bila mereka ternyata asyik dengan ponsel pintar atau sabak elektronik, maka orang tua harus tahu apa yang mereka buka.  Di zaman digital ini, sumber bacaan sekaligus tontonan sudah tersedia melimpah-ruah di mana saja selama terhubung dengan internet. Dan sumber itu selalu berujung pada dua muara: POSITIF dan NEGATIF. Kalau yang dibuka anak di ponsel atau sabel (sabak elektronik)  pada ranah positif, itu yang kita harapkan. Namun, bila yang dibuka bernuansa negatif, maka ini yang mesti dihindarkan. Ingatlah, wahai bapak-ibu para orang tua sekalian (juga calon bapak-ibu), korban pelecehan seksual atau rudakpaksa terus bertambah kuantitas dan kualitasnya. Di tahun 70-an dan 80-an amat jarang kita dengar atau kita baca tentang pelecehan seksual. Tapi, kini di era menjelang dan era 2000-an, sudah semakin banyak dan bukan hanya pada lawan jenis tapi sesama jenis dan yang lebih parah lagi pelaku dan korbannya adalah anak-anak. Semoga Tuhan melindungi kita semua.

                Selain itu juga, orang tua harus tahu perkembangan mental atau kelakuannya sehari-hari. Banyak orang tua yang merasa aman ketika melihat anaknya memiliki teman yang banyak dan barangkali teman yang dekat. mereka beranggapan bahwa anaknya pandai bergaul dan disenangi banyak orang. Namun, bila orang tua memiliki ilmunya, maka ternyata bisa saja anaknya korban perundungan sehingga kebebasan berekspresinya dikekang oleh temannya yang superior. Dengan kata lain, anaknya di bawah tekanan sekelompok temannya.

                        Yang penting lagi dalam masa bersekolah ini, orang tua harus bisa memotivasi anak agar kreatif dan mandiri dengan harapan mereka bisa sukses tanpa menyusahkan orang lain dan mampu meraih cita-cita mereka yang tinggi sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Dalam hal ini, perlu dicamkan para orang tua, bahwa angka nilai hasil belajar bukan satu-satunya penentu keberhasilan anak di masa mendatang. Dalam kenyataan di kehidupan sehari-hari, anak-anak yang sedang-sedang saja dalam prestasi akademik, lebih sukses dibandingkan dengan teman-temannya yang menonjol dalam pelajaran. Jadi, orang tua tidak perlu “memaksa” anaknya, misalnya agar juara kelas.  Di dunia pendidikan antar bangsa, sekarang dipegang teori “Kecerdasan Ganda” ( “Multiple Intelligence”-teori Howard Gardner), yakni bahwa anak terlahir dengan kecerdasan dan bakat yang berbeda.

 

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN ANAK SELEPAS TAMAT SEKOLAH?

                   Barangkali dengan tulisan ini, cukuplah sampai di sini saja penyakit korupsi membiak di negara kita.  Kita putuskan tali rantainya dengan tidak lagi “memaksa” anak kita selepas tamat dari sekolah untuk menjadi PNS atau aparat negara dengan sogokan. Pernah suatu hari, ada orang tua siswa yang anaknya baru tamat SMA. Dengan bangga ia menemui penulis untuk meminta tolong memasukkan anaknya menjadi polisi dengan bermodalkan uang 100 juta untuk riswah. Penulis tanyakan dari mana ia dapatkan uang sebesar itu, ia menjawab dari hasil menjual kebun. Dalam hati penulis, bila anaknya lulus karena riswah ini, apakah uang sebesar itu dianggap angin lalu saja? Jika tidak, apakah sanggup anaknya mengembalikan uang tersebut dalam waktu dekat? Akhirnya, penulis utarakan pendapatnya pada orang itu, bahwa lebih baik uang itu digunakan untuk modal usaha saja agar uangnya bisa berkembang dan berkah.

                       Ada lagi orang tua yang “memaksa” anaknya untuk kuliah. Padahal, kalau dilihat dari nilai akademiknya, anak tersebut tidak cocok untuk belajar di perguruan tinggi.  Kalau memang orang tua punya modal banyak untuk melanjutkan pendidikan anaknya, barangkali yang lebih baik adalah mengirim anaknya ke pusat pelatihan tenaga kerja agar memiliki keterampilan untuk mencari nafkah.

                   Dalam kehidupan sehari-hari, penulis dapatkan seorang ibu yang  begitu dekatnya dengan anak-anaknya sehingga sampai anaknya sudah bekerja (bersih tanpa sogokan), tetap anak-anaknya tinggal di rumah dan diaarahkan bila mau hidup pisah rumah dengan ayah-ibunya, mereka harus sudah memiliki rumah sendiri. 

 

Jadi, sebagai simpulan, orang tua perlu dididik agar peran mereka semakin terasa dan berpengaruh pada keberhasilan pendidikan anak-anak mereka.  Semoga Tuhan Yang Maha Esa memudahkan urusan kita ini. Aamiin.

 

(selesai ditulis oleh Erlan Agusrijaya, di Palembang, 25 Rabi’ul Awwal 1436/ 16 Januari 2015 pada pukul 01:46 WIB)