Blog Archives

Kerja Besar untuk Pendidikan

Mengikuti alur pemikiran Presiden Jokowi yang mengajak para menterinya dan segenap rakyat mewujudkan visi-misi kepemerintahannya dengan kata-kata “kerja, kerja, dan kerja”, maka dalam pembangunan di bidang pendidikan kerja itu besar sekali, mungkin luar biasa besarnya.

Dikatakan besar karena bukan hanya besar pada kapasitas dan kualitas kerjanya pada kementerian pendidikan namun juga pada semua kementerian; bukan hanya pada tanggung jawab pemerintah tapi secara moral juga tanggung jawab semua pihak. Artinya bahwa pembangunan pendidikan membutuhkan kepedulian yang besar dari semua elemen bangsa. Konsekuensinya pemerintah harus menampung aspirasi dari semua pihak untuk membantu pendidikan; tidak boleh membiarkan banyak orang mengurusi pendidikan sendiri-sendiri. Namun negara menggerakkan semua insan Indonesia, atau, seperti yang disebutkan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan di sebuah harian nasional, negara menumbuhkan gerakan rakyat.

Gerakan rakyat ini sebenarnya sudah bisa ditumbuhkan di awal era reformasi, mengingat era ini dikatakan sebagai era bebas bersuara, berserikat dan berkumpul. Namun, apa yang terjadi ternyata pendidikan kita semakin terpuruk. Apakah kita melihat semakin maraknya tindak pidana korupsi dilakukan oleh orang yang tak terdidik? Apakah kita melihat trend tawuran di kalangan pelajar semenjak orde baru sampai sekarang semakin menurun? Apakah minat baca orang Indonesia dibandingkan negara lain sudah dinilai bagus oleh Badan Dunia? Apakah lulusan sekolah dan perguruan tinggi sudah bisa bersaing secara global dengan negara lain? Apakah fasilitas sekolah kita sudah memadai dan merata di seluruh penjuru tanah air? Apakah kompetensi dan kinerja guru sudah bisa dikatakan layak melayani peserta didik? Apakah nasib guru sudah membaik, sudah dapat hidup layak di negeri ini, sudah diapresiasi setinggi-tingginya sehingga guru bisa berkreasi dan berinovasi? Apakah orang tua sudah mau mendukung sepenuhnya terhadap pendidikan anaknya di sekolah? Mana yang lebih dihargai orang tua, nilai yang diberikan guru atau nilai Ujian Nasional? Mana yang bisa memberikan kebanggan orang tua, ijazah sekolah tinggi atau skill (kecakapan) yang tinggi? Apakah suasana sekolah sudah menyenangkan bagi siswa? Apakah kita sadar, perundungan (bullying) semakin banyak terjadi antara peserta didik di sekolah dan perguruan tinggi? Apakah kita sadar, tindak kriminal yang melanda peserta didik, seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan cenderung meningkat?

Masih banyak indikator yang bisa kita ungkapkan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan atau keterpurukan pendidikan di negeri tercinta ini. Namun, dalam tulisan ini cukuplah pertanyaan yang disebutkan di atas sebagai pemicu kesadaran kita bahwa pendidikan kita membutuhkan kerja besar. Perekat bangsa agar bisa memulai kerja besar ini sudah ada sebelum kemerdekaan. Semboyan kerjanya pun sudah kita kenal. Patokannya telah terpancang. Apa itu? Bapak Pendidikan kita telah mengemukannya, yakni “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” (Di depan memberikan keteladanan, di tengah memberikan bimbingan, di belakang memberikan dorongan).

Memang titik sentral dalam pendidikan adalah guru. Pak Anies menegaskan hal ini dalam sambutannya pada HGN (Hari Guru Nasional) tanggal 25 November 2014 yang lalu. Semboyan itu mau tak mau memang harus dijalankan oleh guru baik di sekolah maupun di luar sekolah.  Itulah yang dimaksud bahwa guru adalah yang ditiru dan digugu. Namun, apakah usaha dan kerja guru bisa mendatangkan hasil yang maksimal bagi pendidikan anak bangsa kita dalam konteks kekinian?

Guru perlu didukung oleh orang tua murid agar semua arahan, nasehat, pengajaran pada anak mereka dapat diserap dan tertanam dengan baik pada diri anak-anak mereka; agar semua tugas yang diberikan guru dapat dipahami dan dilaksanakan anak mereka di rumah. Guru perlu didukung oleh dunia kerja agar ilmu dan keterampilan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau instansi yang dituju lulusan pendidikan. Guru perlu didukung oleh media massa baik cetak ataupun elektronik agar informasi yang tersedia bisa memuaskan kebutuhan mereka dan peserta didik terhadap materi ajar dan media pembelajaran, bebas dari informasi negatif yang meracuni pemikiran dan meliarkan nafsu berahi, bersih dari bacaan atau tayangan yang memicu kekerasan dan provokasi.

Jadi kerja besar harus dilaksanakan oleh bangsa ini mulai dari setiap keluarga, segala lapisan masyarakat dan semua lini usaha dan instansi agar generasi emas dapat terwujud.

BEASISWA S2 dan S3 dari Pemerintah RI untuk Warga Negara RI

beasiswa

1. Latar Belakang

Bonus demografi bagi bangsa Indonesia berupa proporsi usia produktif terbaik sejak kemerdekaan terjadi dari 2010 hingga 2035. Hal tersebut akan menjadi dividen demografis bila pendidikan berhasil, atau sebaliknya menjadi bencana demografis bila pendidikan gagal. Keberhasilan menyiapkan sumber daya manusia agar menjadi kekuatan bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa memerlukan pendidikan yang mampu menghasilkan putra-putri bangsa yang berkarakter, cerdas, terampil, berdaya juang dan daya saing tinggi, serta dilandasi dengan semangat kebangsaan yang kuat.

Untuk mencapai hal tersebut Visi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2012-2016 adalah Menjadi lembaga pengelola dana yang terbaik di tingkat regional untuk menyiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan. Dari visi tersebut dijabarkan dalam misi yaitu:

  1. Mempersiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui pembiayaan pendidikan;
  2. Mendorong riset strategis dan/ atau inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset;
  3. Menjamin keberlangsungan pendanaan pendidikan bagi generasi berikutnya melalui pengelolaan Dana Abadi Pendidikan yang optimal; dan
  4. Sebagai last resort, mendukung rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam melalui pengelolaan Dana Cadangan Pendidikan. Dengan visi dan misi tersebut, maka LPDP ikut memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan khususnya dalam menyiapkan SDM yang berkualitas.

Pemerintah melalui LPDP, pada tahun 2013 menyiapkan Beasiswa  Magister dan Doktor bagi masyarakat Indonesia yang memenuhi persyaratan LPDP untuk melanjutkan studi pada Program Magister atau Doktor dalam beberapa bidang keilmuan yang menjadi prioritas LPDP di perguruan tinggi dalam atau luar negeri.

Pedoman Program Beasiswa Magister dan Doktor ini disusun untuk memberikan acuan dalam pelaksanaan Program Beasiswa Magister dan Doktor yang sesuai visi dan misi LPDP. Dengan adanya pedoman ini diharapkan pelaksanaan proses seleksi Program Beasiswa Magister dan Doktor dapat berjalan dengan baik dan mampu menjaring/memilih penerima Beasiswa Magister dan Doktor yang tepat yang sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan LPDP.

 2.  Tujuan

Program Beasiswa Magister dan Doktor LPDP bertujuan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkemampuan yang mumpuni sebagai pemimpin masa depan Indonesia.

 3. Sasaran Program

Sasaran bantuan program beasiswa ini adalah Warga Negara Indonesia yang berkemampuan akademik dan kepemimpinan yang tinggi dan lolos proses seleksi untuk melaksanakan studi pada

program Magister dan Doktor. Bidang ilmu program beasiswa Magister dan Doktor LPDP adalah bidang ilmu yang menjadi fokus LPDP yang terdiri atas :

  1. Teknik
  2. Sains
  3. Pertanian
  4. Akuntansi dan Keuangan
  5. Hukum
  6. Agama

 4. Komponen Pembiayaan

Program Beasiswa Magister dan Doktor LPDP memberikan bantuan biaya studi program Magister atau Doktor kepada penerima beasiswa yang meliputi komponen-komponen berikut:

  1. Biaya Awal (Initial Allowance) yang meliputi:
  • Biaya Pendaftaran (langsung dibayarkan ke universitas);
  • Biaya Matrikulasi (langsung dibayarkan ke universitas);
  • Biaya akomodasi awal (Settlement Alloe);
  • Biaya Tesis/Desertasi;
  • Biaya seminar international (untuk S3);
  • Biaya transportasi.
  1. Biaya Berkala (Periodic Allowance) yang meliputi;
  • Biaya perkuliahan / SPP (tuition fee);
  • Biaya hidup bulanan & tunjangan domisili (monthly allowance);
  • Tunjangan buku (book allowance).
  • Asuransi kesehatan.

Tentang Kriteria Seleksi, Persyaratan, dan lain-lain bisa diunduh di sini

PENDIDIKAN UNTUK ORANG TUA SISWA, PERLUKAH?

Dalam laman resminya KEMDIKBUD (www.kemdikbud.go.id), dalam bagian berita tertanggal 14 Januari 2015 disebutkan bahwa Mendikbud, Pak Anies Baswedan, akan membentuk direktorat yang menangani peranan orang tua dalam pendidikan. Direktorat ini akan menjadi rujukan bagi orang tua untuk mencari informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keayahbundaan atau peran orang tua dalam pendidikan anak. Selanjutnya dinyatakan juga bahwa direktorat ini dibuat sebagai suatu kebijakan dalam pendidikan orang tua. Sebelumnya dalam berbagai kesempatan Mendikbud sering mengatakan bahwa  orang tua memegang peranan amat penting dalam pendidikan seorang anak.

               Rencana ini patut kita apresiasi dan kita dukung agar dapat terwujud dan difungsikan sebagaimana yang diharapkan. Rencana ini merupakan suatu rangkaian pembaharuan yang dilaksanakan Pak Anies demi terciptanya pendidikan yang bermutu, merata dan menyenangkan, yang mana sebelum ini beliau juga mengungkapkan akan membentuk direktorat yang menangani pengelolaan guru. Sungguh ini merupakan contoh yang bagus saat beliau berkreatifitas dalam memimpin kementerian pendidikan.

                   Kembali pada pendidikan orang tua, apakah memang dirasa perlu  penyelenggaraanya sehingga Kemdikbud harus membuat direktorat khusus?

                   Tentang peran penting orang tua dalam pendidikan anak sepertinya sebuah kelaziman di setiap tempat dan waktu. Namun apakah peran tersebut sudah optimal sehingga pemdidikan anak-anak sudah bisa dikatakan berhasil? Selama kurang lebih 22 tahun mengajar di sekolah menengah swasta, penulis menemukan amat sedikit (kalau tidak bisa dikatakan nihil) orang tua yang mau datang ke sekolah demi melihat perkembangan anaknya di sekolah. Bila mereka dipanggil, maka yang paling sering datang adalah wakilnya (bisa saudara tua, paman, bibi, bahkan tetangga). Dan yang amat memprihatinkan, mereka kebanyakan tidak tahu kelakuan anaknya di sekolah, apakah rajin ke sekolah atau sering membolos. Apalagi kalau panggilan tentang rapat keuangan sekolah, mereka tidak mau tahu apakah sumbangan atau tambahan biaya sekolah itu untuk peningkatan belajar siswa. Yang ada dalam celotehan mereka adalah sekolah selalu minta pungutan. Padahal, bila mereka mau melihat sekolah lain yang lebih maju, sumbangsih dari orang tua amat membantu sekolah dalam peningkatan mutu proses pembelajaran para siswanya.

                  Dari sekilas pengalaman di atas, kita dapat mencari suatu solusi dalam menjembatani antara kepentingan sekolah, kebutuhan anak dan kepedulian orang tua, yakni perlu adanya rujukan bagi orang tua untuk berkonsultasi atau mencari sumber terpercaya tentang peran, kewajiban dan hak serta apa yang dibutuhkan orang tua dalam membantu pendidikan anak-anak mereka di sekolah, madrasah, atau pendidikan non-formal. 

                    Dalam kaitan perlunya pendidikan untuk orang tua siswa, maka paling tidak ada 3 (tiga) hal pokok yang harus dikuasai oleh orang tua, yakni:

(1) Ilmu bagaimana mempersiapkan anak untuk masuk sekolah;

(2) Ilmu bagaimana mendukung pendidikan anak selama bersekolah; dan

(3) Ilmu bagaimana mempersiapkan anak bila lulus sekolah.

 

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN ANAK SEBELUM BERSEKOLAH?

                  Barangkali ini bila ditanyakan pada orang tua siswa, maka semua mereka menyatakan sudah mempersiapkan anaknya semaksimal mungkin. Sebagai contoh, mereka sudah mempersiapkan perlengkapan sekolah, seperti alat tulis, seragam sekolah, tas, sepatu, dlll., bahkan pada anak jenjang SMP dan SMA dibekali dengan kendaraan bermotor. Namun yang dibicarakan dalam tulisan ini, sebagai usulan bagi instruktur atau tutor dalam pendidikan orang tua, adalah kiat atau ilmu yang di luar negeri disebut dengan “Study Skills” (keterampilan belajar). Keterampilan inilah yang akan membuat anak betul-betul siap memulai sekolahnya dengan keyakinan tinggi untuk sukses. Keterampilan ini mencakup keterampilan membaca buku agar bisa cepat menguasai materi, mencatat penjelasan guru agar bisa memahami dengan mudah, mengatur waktu di rumah agar terbiasa disiplin waktu dan keterampilan menuangkan ide-ide dalam diskusi dan tulisan (berarti juga ilmu bagaimana berdiskusi atau berpikir ilmiah). Perlu kita sadari bahwa salah satu kekurangan putra-putri bangsa Indonesia selama ini adalah belum terbiasa mencatat peristiwa atau kejadian sehari-hari dalam buku harian (jurnal) sehingga kita kekurangan dokumentasi sebagai sumber data atau sumber ide tulisan.

 

BAGAIMANA MENDUKUNG KEGIATAN BELAJAR ANAK SELAMA BERSEKOLAH?

                       Mirip dengan subjudul pertama, banyak orang tua merasa sudah mendukung kegiatan belajar anaknya dengan, misalnya, memberi uang saku, penyediaan alat transportasi dan alat komunikasi (telepon seluler, sabak elektronik), bahkan komputer jinjing. Namun, bukan sekedar itu saja; anak perlu diawasi dan dipantau sejauh mana kegiatan belajar mereka di sekolah dan di luar sekolah.  Artinya, orqang tua harus memiliki ilmu bagaimana mengawasi atau memantau anak dan bagaimana mengatasi permasalahan yang muncul berkaitan dengan kegiatan mereka selama bersekolah. Sebagai contoh, rajinnya anak pergi ke sekolah belum tentu menunjukkan anak tersebut rajin belajar, sebab betapa sering anak pergi dari rumah tepat waktu dan pulang ke rumah juga tepat waktu. Akan tetapi, bila orang tua tidak mengawasi kegiatan pergi-pulang ini, maka mereka  tidak tahu bahwa ternyata anak mereka sering membolos (kepergian mereka tidak menuju ke sekolah).

                       Begitu juga, bila melihat anak mereka sepulang sekolah tidak keluar-keluar rumah lagi, namun mengendap di kamarnya, maka orang tuian janganlah lekas merasa puas atau senang. Kenapa? Orang tua perlu tahu, apa yang mereka kerjakan di kamarnya. Bila mereka ternyata asyik dengan ponsel pintar atau sabak elektronik, maka orang tua harus tahu apa yang mereka buka.  Di zaman digital ini, sumber bacaan sekaligus tontonan sudah tersedia melimpah-ruah di mana saja selama terhubung dengan internet. Dan sumber itu selalu berujung pada dua muara: POSITIF dan NEGATIF. Kalau yang dibuka anak di ponsel atau sabel (sabak elektronik)  pada ranah positif, itu yang kita harapkan. Namun, bila yang dibuka bernuansa negatif, maka ini yang mesti dihindarkan. Ingatlah, wahai bapak-ibu para orang tua sekalian (juga calon bapak-ibu), korban pelecehan seksual atau rudakpaksa terus bertambah kuantitas dan kualitasnya. Di tahun 70-an dan 80-an amat jarang kita dengar atau kita baca tentang pelecehan seksual. Tapi, kini di era menjelang dan era 2000-an, sudah semakin banyak dan bukan hanya pada lawan jenis tapi sesama jenis dan yang lebih parah lagi pelaku dan korbannya adalah anak-anak. Semoga Tuhan melindungi kita semua.

                Selain itu juga, orang tua harus tahu perkembangan mental atau kelakuannya sehari-hari. Banyak orang tua yang merasa aman ketika melihat anaknya memiliki teman yang banyak dan barangkali teman yang dekat. mereka beranggapan bahwa anaknya pandai bergaul dan disenangi banyak orang. Namun, bila orang tua memiliki ilmunya, maka ternyata bisa saja anaknya korban perundungan sehingga kebebasan berekspresinya dikekang oleh temannya yang superior. Dengan kata lain, anaknya di bawah tekanan sekelompok temannya.

                        Yang penting lagi dalam masa bersekolah ini, orang tua harus bisa memotivasi anak agar kreatif dan mandiri dengan harapan mereka bisa sukses tanpa menyusahkan orang lain dan mampu meraih cita-cita mereka yang tinggi sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Dalam hal ini, perlu dicamkan para orang tua, bahwa angka nilai hasil belajar bukan satu-satunya penentu keberhasilan anak di masa mendatang. Dalam kenyataan di kehidupan sehari-hari, anak-anak yang sedang-sedang saja dalam prestasi akademik, lebih sukses dibandingkan dengan teman-temannya yang menonjol dalam pelajaran. Jadi, orang tua tidak perlu “memaksa” anaknya, misalnya agar juara kelas.  Di dunia pendidikan antar bangsa, sekarang dipegang teori “Kecerdasan Ganda” ( “Multiple Intelligence”-teori Howard Gardner), yakni bahwa anak terlahir dengan kecerdasan dan bakat yang berbeda.

 

BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN ANAK SELEPAS TAMAT SEKOLAH?

                   Barangkali dengan tulisan ini, cukuplah sampai di sini saja penyakit korupsi membiak di negara kita.  Kita putuskan tali rantainya dengan tidak lagi “memaksa” anak kita selepas tamat dari sekolah untuk menjadi PNS atau aparat negara dengan sogokan. Pernah suatu hari, ada orang tua siswa yang anaknya baru tamat SMA. Dengan bangga ia menemui penulis untuk meminta tolong memasukkan anaknya menjadi polisi dengan bermodalkan uang 100 juta untuk riswah. Penulis tanyakan dari mana ia dapatkan uang sebesar itu, ia menjawab dari hasil menjual kebun. Dalam hati penulis, bila anaknya lulus karena riswah ini, apakah uang sebesar itu dianggap angin lalu saja? Jika tidak, apakah sanggup anaknya mengembalikan uang tersebut dalam waktu dekat? Akhirnya, penulis utarakan pendapatnya pada orang itu, bahwa lebih baik uang itu digunakan untuk modal usaha saja agar uangnya bisa berkembang dan berkah.

                       Ada lagi orang tua yang “memaksa” anaknya untuk kuliah. Padahal, kalau dilihat dari nilai akademiknya, anak tersebut tidak cocok untuk belajar di perguruan tinggi.  Kalau memang orang tua punya modal banyak untuk melanjutkan pendidikan anaknya, barangkali yang lebih baik adalah mengirim anaknya ke pusat pelatihan tenaga kerja agar memiliki keterampilan untuk mencari nafkah.

                   Dalam kehidupan sehari-hari, penulis dapatkan seorang ibu yang  begitu dekatnya dengan anak-anaknya sehingga sampai anaknya sudah bekerja (bersih tanpa sogokan), tetap anak-anaknya tinggal di rumah dan diaarahkan bila mau hidup pisah rumah dengan ayah-ibunya, mereka harus sudah memiliki rumah sendiri. 

 

Jadi, sebagai simpulan, orang tua perlu dididik agar peran mereka semakin terasa dan berpengaruh pada keberhasilan pendidikan anak-anak mereka.  Semoga Tuhan Yang Maha Esa memudahkan urusan kita ini. Aamiin.

 

(selesai ditulis oleh Erlan Agusrijaya, di Palembang, 25 Rabi’ul Awwal 1436/ 16 Januari 2015 pada pukul 01:46 WIB)

 

Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-21 Tahun 2013

lomba guru

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan Lomba Kreatifitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-21 Tahun 2013. LKIG adalah ajang lomba kreatifitas bagi guru dalam upaya pengembangan proses pembelajaran guna mempermudah pemahaman ilmu pengetahuan bagi para peserta didik.

TINGKAT DAN BIDANG LOMBA

  • Guru SD/sederajat: umum (salah satu pelajaran)
  • Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat: 2 Bidang yaitu Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi (MIPATek)

RANGKAIAN KEGIATAN

  • 30 September 2013 : Registrasi Peserta dan Setting Pameran
  • 1 Oktober 2013 : Pameran Finalis
  • 2 Oktober 2013 : Presentasi Finalis dan Penganugerahan Pemenang
  • 3 Oktober 2013 : Kepulangan Peserta

HADIAH

Pemenang akan mendapatkan piala dan piagam penghargaan dari LIPI serta uang tunai.

PERSYARATAN

  1. Peserta adalah guru yang mengajar pada lembaga pendidikan formal.
  2. Belum pernah menjadi pemenang LKIG dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
  3. Sistematika Penulisan : Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Isi/Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pustaka.
  4. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik HVS A4, berjarak 1½ spasi dengan jenis huruf Arial ukuran 11.
  5. Karya ilmiah harus asli (bukan jiplakan/plagiat) dan belum sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis tingkat nasional.
  6. Jumlah halaman karya ilmiah maksimal 25 halaman (termasuk sketsa/gambar/foto).
  7. Melampirkan rekomendasi Kepala Sekolah dan Daftar Riwayat Hidup (nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat rumah dan sekolah/instansi, telepon/HP, serta email).
  8. Format judul, abstrak, surat rekomendasi dan daftar riwayat hidup dapat diunduh melalui situs LKIG 2013 http://kompetisi.lipi.go.id/lkig21/.
  9. Peserta mendaftar dan mengunggah karya tulis melalui situs http://kompetisi.lipi.go.id/lkig21/.
  10. Karya ilmiah dikirimkan secara elektronik diterima oleh panitia selambat-lambatnya tanggal 21 Agustus 2013.
  11. Panduan dan informasi lomba dapat dilihat melalui situs LKIG 2013.
  12. Pengumuman finalis dapat dilihat melalui situs LKIG 2013 pada tanggal 18 September 2013.
  13. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

KONTAK

Panitia LKIG ke-21 Tahun 2013
Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI
Gedung Sasana Widya Sarwono Lt. 5
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 10
Jakarta Selatan 12710
Telp (021) 5225711 ext. 1276, 1273, 1274
Fax. (021) 5251834, 52920839

Peran Guru Sebagai Pembimbing

Perubahan paradigma pembelajaran dari pembelajaran pasif (teacher-centered) ke pembelajaran aktif (student-centered), menghendaki adanya perubahan peran guru dalam proses pembelajaran. Salah satu peran yang harus dijalankan guru adalah sebagai pembimbing. Peran guru sebagai pembimbing pada dasarnya adalah peran guru dalam upaya membantu siswa agar dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui hubungan interpersonal yang akrab dan saling percaya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya.

Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif. Siswa adalah individu yang unik. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Di samping itu setiap individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing.

Hubungan guru dan siswa seperti halnya seorang petani dengan tanamannya. Seorang petani tidak bisa memaksa agar tanamannya cepat berbuah dengan menarik batang atau daunnya. Tanaman itu akan berbuah manakala ia memiliki potensi untuk berbuah serta telah sampai pada waktunya untuk berbuah. Tugas seorang petani adalah menjaga agar tanaman itu tumbuh dengan sempurna, tidak terkena hama penyakit yang dapat menyebabkan tanaman tidak berkembang dan tidak tumbuh dengan sehat, yaitu dengan cara menyemai, menyiram, memberi pupuk dan memberi obat pembasmi hama. Demikian juga halnya dengan seorang guru. Guru tidak dapat memaksa agar siswanya jadi ”itu” atau jadi ”ini”. Siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Tugas guru adalah menjaga, mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Inilah makna peran sebagai pembimbing. Jadi, inti dari peran guru sebagai pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan siswa yang dibimbingnya

Lebih jauh, Abin Syamsuddin (2003) menyebutkan bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching). Berkenaan dengan upaya membantu mengatasi kesulitan atau masalah siswa, peran guru tentu berbeda dengan peran yang dijalankan oleh konselor profesional. Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah siswa yang mungkin bisa dibimbing oleh guru yaitu masalah yang termasuk kategori ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan.

Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah, peran dan konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :

Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor memerlukan pelayanan khusus. seperti pengajaran/latihan perbaikan, dan program pengayaan.
Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Jika melihat realita bahwa di Indonesia jumlah tenaga konselor profesional memang masih relatif terbatas, maka peran guru sebagai pembimbing tampaknya menjadi penting. Ada atau tidak ada konselor profesional di sekolah, tentu upaya pembimbingan terhadap siswa mutlak diperlukan. Jika kebetulan di sekolah sudah tersedia tenaga konselor profesional, guru bisa bekerja sama dengan konselor bagaimana seharusnya membimbing siswa di sekolah. Namun jika belum, maka kegiatan pembimbingan siswa tampaknya akan bertumpu pada guru.

Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai pembimbing, berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya pemahaman tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang dimiliki anak, dan latar belakang kehidupannya. Pemahaman ini sangat penting, sebab akan menentukan teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada mereka.
Guru dapat memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan keunikan yang dimilikinya.
Guru seyogyanya dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan saling percaya, termasuk di dalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data siswa yang dibimbingnya, apabila data itu bersifat pribadi.
Guru senantiasa memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonsultasikan berbagi kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika sedang berada di kelas maupun di luar kelas.
Guru sebaiknya dapat memahami prinsip-prinsup umum konseling dan menguasai teknik-tenik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan siswanya, khususnya ketika siswa mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam belajarnya.
(disalin dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/10/17/peran-guru-sebagai-pembimbing/#more-15987)